Pertumbuhan Ekonomi 2018 Hanya 5,1 Persen, CORE Beberkan Indikatornya

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Selasa, 28 November 2017 - 14:28:00 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 2018 Hanya 5,1 Persen, CORE Beberkan Indikatornya
Ilustrasi (Foto: iNews.id/Yudistiro)

JAKARTA, iNews.id - Center of Reform on Economics (CORE) memperkirakan tanpa adanya kebijakan-kebijakan yang inovatif, ekonomi Indonesia di 2018 hanya tumbuh di kisaran 5,1-5,2 persen. Sementara, inflasi tahun depan diprediksi mencapai 3,5 persen dan nilai tukar berada di kisaran Rp13.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Di tahun depan nanti kita akan mempersentasekan juga tidak jauh dari 5 persen," kata Direktur CORE, Mohammad Faisal saat acara CORE Economic Outlook 2018 di Jakarta, Selasa (28/11/2017).

Sementara, tantangan ekonomi di tahun mendatang diperkirakan semakin berat dengan adanya tahun politik, yakni Pilkada serentak dan persiapan Pemilu 2019.

"Berbeda dengan Pilkada 2015 yang hanya ada di delapan provinsi, cakupan Pilkada kali ini lebih luas dan meliputi daerah-daerah yang memiliki PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terbesar," ujar Founder CORE, Hendri Saparini di kesempatan yang sama.

Pilkada tahun depan akan digelar di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten, termasuk daerah yang menjadi pusat ekonomi utama seperti Jawa Barat, dan Jawa Timur. Pilkada serentak tersebut akan menjadi awal rangkaian tahun politik sebelum masuk ke agenda Pemilu 2019, di mana calon presiden dan wakil presiden harus sudah ditetapkan tahun depan.

Dari sisi domestik, diprediksi pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama ekonomi domestik masih akan tertahan pada level 4,95-5 persen sedikit lebih baik dibanding tahun ini yang diperkirakan maksimum hanya mencapai 4,95 persen.

Menurut Faisal, konsumsi golongan menengah ke bawah diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibanding kalangan atas. Ada beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan konsumsi kalangan ini.

Pertama, Pilkada serentak yang akan digelar pada Juni dan kampanye Presiden dimulai Oktober 2018 akan meningkatkan belanja masyarakat yang terlibat dalam peseta demokrasi tersebut. "Misalnya Pilkada 2015, pertumbuhan konsumsi masyarakat 40 persen berpendapatan terendah terdongkrak hampir 20% yang tertinggi setidaknya dalam lima tahun terakhir," ujarnya.

Kedua, peningkatan belanja bantuan sosial baik yang bersumber dari APBN atau APBD akan mengalami peningkatan imbas menjelang Pilkada dan Pilpres. Ketiga, peningkatan harga komoditas akan memberikan peningkatan pendapatan bagi masyarakat di daerah pertambangan dan perkebunan seperti di Sumatera dan Kalimantan.

Terakhir, proyeksi inflasi tahun depan diperkirakan tetap rendah seperti tahun ini di level 3,5 persen yang merupakan pengaruh tahun politik.

Editor : Ranto Rajagukguk