Ranitidin Picu Kanker, BPOM Beri Waktu 80 Hari ke Industri Farmasi Tarik Produk

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 11 Oktober 2019 - 13:03 WIB
Ranitidin Picu Kanker, BPOM Beri Waktu 80 Hari ke Industri Farmasi Tarik Produk

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan seluruh industri farmasi pemegang izin edar produk ranitidin untuk menghentikan sementara produksi, distribusi, dan peredarannya. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan seluruh industri farmasi pemegang izin edar produk ranitidin untuk menghentikan sementara produksi, distribusi, dan peredarannya. Batas waktu penarikan obat ranitidin hingga 80 hari terhitung sejak 9 Oktober lalu. 

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, penarikan sementara ini karena produk tersebut mengandung cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) di atas ambang batas yang jika terus digunakan memicu kanker. Berdasarkan standar global, kandungan cemaran NDMA yang masih diperbolehkan adalah 96 nano gram per hari.

"Ini tentunya bentuk tanggung jawab dari industri farmasi juga. Ada batas waktu penarikan sampai 80 hari dari semenjak 9 Oktober," ujarnya saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Kandungan NDMA ini mulanya ditemukan oleh US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA) pada 13 September lalu. Meski kandungan NDMA yang ditemukan relatif kecil tapi bisa bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus-menerus dalam jangka lama.

"Pada tanggal 17 September 2019, Badan POM menerbitkan informasi awal untuk tenaga profesional kesehatan terkait keamanan produk yang mengandung bahan aktif ranitidin," ucapnya.

Sejak saat itu, industri farmasi telah secara sukarela melakukan recall atau penarikan kembali produk ranitidin yang ada di pasaran. Bahkan beberapa perusahaan farmasi melakukan pengujian sendiri pada produknya.

"Saya kira banyak industri farmasi yang sudah melakukan recall, sehingga produk ranitidin yang mengandung cemaran ini saya kira harusnya sudah tidak ada di pasaran," kata dia.

Ranitidin merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus, melalui kajian evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu. Penghentian sementara ini berlaku untuk semua jenis produk ranitidin baik dalam bentuk sediaan tablet, sirup, dan injeksi.

Ke depan, BPOM terus melakukan pengambilan dan pengujian sampel produk ranitidin. Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin untuk menjadikan dasar pengambilan keputusan selanjutnya.

BPOM akan terus memperbarui informasi sesuai dengan data yang terbaru. Dia mengimbau bagi masyarakat yang sedang menjalani pengobatan dengan ranitidin dapat menghubungi dokter atau apoteker untuk mendapatkan alternatif pengganti terapi. 

"Masyarakat diimbau agar tidak resah menanggapi pemberitaan yang ada, jika masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi apoteker, dokter dan tenaga kesehatan lainnya," katanya.

Editor : Ranto Rajagukguk