Saran Indef agar RI Terbebas dari Middle Income Trap

Rully Ramli ยท Kamis, 07 Februari 2019 - 18:01 WIB
Saran Indef agar RI Terbebas dari Middle Income Trap

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nawir Messi. (Foto: iNews.id/Rully Ramli)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia meningkat menjadi 3.927 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp56 juta tahun 2018. Dengan angka tersebut, saat ini Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara berpendapatan menengah keatas.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nawir Messi mengatakan, dengan angka pendapatan per kapita tersebut, Indonesia masih perlu waspada agar tidak terjebak dalam negara middle income trap. Menurut dia, jangan sampai pertumbuhan ekonomi stagnan, seperti yang dialami Argentina.

"Pertanyaannya adalah apakah dengan kondisi perekonomian kecenderungan investasi, dan hal-hal terkait mendorong ekonomi dapat menjadikan Indonesia ke negara tergolong berpendapatan tinggi? Jangan sampai yang terjadi di Argentina terjadi di kita, jangan sampai juga terjerat di middle income trap," tutur Nawir di Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha itu menilai, Indonesia akan sulit dapat menjadi negara berpendapatan tinggi. Perlu banyak reformasi kebijakan ekonomi agar Indonesia dapat menjadi negara maju dengan pendapatan tinggi.

Menurut dia, Indonesia perlu menggenjot angka pertumbuhan ekonomi ke 7 persen, dan mempertahankannya sampai tahun 2030. Namun, dia mengakui untuk mencapainya memang akan sangat sulit.

"Pasalnya, kita makin menjauhi kecendrungan pertumbuhan ekonomi tinggi. Bahkan, diumumkan BPS kemarin, tidak menujukkan kecenderungan naik, bahkan ke angka 6 persen," ujar Nawir.

Realisasi investasi yang mengalami perlambatan pertumbuhan dinilai akan semakin mempersulit percepatan pertumbuhan ekonomi. Pada 2018, realisasi investasi Indonesia hanya tumbuh 4,1 persen, turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, yang tumbuh 16,4 persen.

Nawir mengatakan, Indonesia perlu menggenjot investasi, apabila ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus pendapatan per kapita. Menurut dia, Indonesia perlu menggenjot pertumbuhan investasi ke angka 43 persen apabila ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 7,5 persen.

"Pada tingkat pertumbuhan ekonomi 6 persen, kita membutuhkan lonjakan investasi sekitar 14 persen. Apalagi kalau kita ini menggenjot ke pertumbuhan ekonomi ke 7,5 persen, kita membutuhlan lonjakan sekitar 43 persen," kata Nawir.


Editor : Ranto Rajagukguk