Sektor Konsumsi Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2018

Ade Miranti Karunia Sari ยท Selasa, 26 Juni 2018 - 21:29:00 WIB
Sektor Konsumsi Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2018
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id – Pemerintah memperkirakan ekonomi nasional di kuartal II-2018 bisa tumbuh mencapai 5,2 persen, lebih baik dari triwulan sebelumnya yang sebesar 5,06 persen.

Ekonom dari PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual menilai, perkiraan pertumbuhan itu bisa tercapai mengingat sektor konsumsi akan berperan cukup besar. Di kuartal kedua tahun ini pertumbuhan ekonomi akan dikontribusi dari peningkatan sektor konsumsi selama Lebaran serta pesta demokrasi melalui pemilihan umum kepala daerah (Pilkada).

"Positifnya ada Pilkada yang membantu sektor konsumsi non-rumah tangga. Jadi, belanja dari pemilu dan kampanyenya itu bisa mendongkrak sektor konsumsinya," kata David kepada iNews.id, Selasa (26/6/2018).

Kemudian, masa panen raya yang awalnya panen pada kuartal pertama, rupanya berlangsung pada triwulan kedua tahun ini. "Terus juga ada sektor pertanian, terutama padi ini masa panennya pindah kuartal I ke kuartal II," tutur David.

Di sisi lain, ada faktor negatif yang membebani pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II, yaitu impor yang terus membengkak. Pada Mei 2018 saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor mencapai 17,64 miliar dolar AS, naik 28,12 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu yang sebesar 11,93 miliar dollar AS.

Sedangkan untuk nilai ekspor, mencapai 16,12 miliar dolar AS, tumbuh 12,47 persen dibanding Mei 2017 yang hanya 14,33 miliar dolar AS. "Jadi, kalau dihitung sejak awal tahun, defisitnya year to date sudah 2,49 miliar dolar AS. Kalau defisitnya tinggi berarti faktor pengurang dari PDB," katanya.

Meski begitu, David menilai, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sampai akhir tahun memang sulit dicapai. Sekalipun pemerintah melakukan berbagai kebijakan khusus, pertumbuhan ekonomi tidak akan menyentuh 5,4 persen.

Sementara itu, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Fiannce (Indef) Bhima Yudistira menilai, target pemerintah untuk pertumbuhan 5,2 persen pada kuartal II-2018 masih ambisius. Ia memprediksi ekonomi di triwulan kedua tahun ini tumbuh 5,15 persen.

Dia mengakui konsumsi rumah tangga akan menjadi kontributor utama penggerak pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini. "Besarnya kenaikan THR (Tunjangan Hari Raya) dan libur panjang sehingga masyarakat lebih banyak belanja. Serapan belanja pemerintah khususnya belanja pegawai juga menstimulus ekonomi nasional," kata Bhima.

Namun, di sisi lain defisit neraca perdagangan akan melonjak cukup tinggi karena libur Lebaran yang cukup panjang menurunkan produksi sektor industri. Walhasil, ekspor pun akan menurun sehingga defisit perdagangan semakin melebar.

"Efeknya net ekspor lebih rendah dari kuartal pertama. Kemudian libur yang panjang juga menurunkan produksi sektor industri pengolahan. Logistik ikut terpengaruh karena prioritas fungsi tol dan pelabuhan untuk mudik. Dari sisi investasi karena libur panjang dan jelang pilkada akhirnya investor cenderung wait and see. Investasi baru tinggi realisasinya di kuartal III dan kuartal IV," ujarnya.

Bhima juga menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak bisa mencapai target sebesar 5,4 persen. "Overall di 2018 pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,1 persen," ucap dia.

Editor : Ranto Rajagukguk