Suku Bunga Deposito Tinggi, Gubernur BI Nilai Wajar

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 18 Januari 2019 - 22:02 WIB
Suku Bunga Deposito Tinggi, Gubernur BI Nilai Wajar

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Perbankan dalam negeri mulai memasuki era suku bunga tinggi tak terkecuali suku bunga deposito. Pasalnya, sejak tahun lalu Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuannya dari 4,25 persen menjadi 6 persen

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, tren suku bunga deposito yang tinggi ini karena sebagian besar sumber dana dari perbankan berasal dari ritel. Oleh karena itu, wajar bila suku bunga deposito merespons kenaikan suku bunga acuan BI lebih cepat.

"Funding perbankan sebagian besar ritel, makannya kalau suku bunga BI naik, suku bunga pasar uang naik, ritel funding banknya harus naik," ujarnya di Kompleks BI, Jumat (18/1/2019).

Faktor lainnya, pada tahun lalu derasnya aliran dana asing keluar dari Indonesia membuat likuiditas rupiah di dalam negeri menjadi berkurang. Hal ini membuat upaya BI melonggarkan likuiditas dengan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) rerata tidak mampu menarik dana tersebut kembali ke Indonesia.

"Artinya, funding bank-bank yang dulunya tidak hanya ritel tapi juga dari luar negeri berkurang," kata dia.

Kendati demikian, suku bunga kredit perbankan masih berada di level yang rendah karena perbankan memilih untuk menjaga agar tetap rendah. Perbankan melakukan berbagai efisiensi untuk mengurangi selisih suku bunga deposito dengan suku bunga kredit.

"Kredit korporasi masih di bawah 10 persen, kalau konsumsi 11 persen, jadi bank-bank lebih banyak meningkatkan efisiensi dan langkah lain sehingga spread suku bunga kredit dan funding menyempit," ucapnya.

Kondisi ini masih akan berlanjut karena BI kemungkinan masih melanjutkan tren kenaikan suku bunga acuan di tahun ini. Hal ini sebagai respons atas kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate) yang diperkirakan naik dua kali pada 2019.

Kendati demikian, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus berkoordinasi melakukan pemantauan likuiditas perbankan. Misalnya dengan melakukan operasi moneter, ekspansi moneter, dan kebijakan lainnya untuk mencukupi likuiditas di perbankan dan pasar uang.

"Kami akan pastikan lidkuitas cukup di pasar uang dan perbankan. Kalau OJK memantau kondisi likduitas perbankan itu cukup," tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk