Tanggapan BI atas Kebijakan Bank Sentral China Dorong Perekonomian

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 18 Januari 2019 - 23:59 WIB
Tanggapan BI atas Kebijakan Bank Sentral China Dorong Perekonomian

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) menanggapi upaya bank sentral China (PBOC) untuk mendorong pertumbuhan ekonominya yang diprediksi melambat. Salah satunya dengan cara melonggarkan likuditasnya dengan menggelontorkan 560 miliar yuan ke perbankan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, upaya tersebut sama seperti yang dilakukan Indonesia yang melakukan pelonggaran likuiditas untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi.

"Karena ingin juga men-support perbaikan ekonomi seperti di kita suku bunga kita tetep hawkish, preemptive, dan forward looking untuk stabilitas eksternal," ujarnya di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Kendati demikian, bukan berarti stance kebijakan Indonesia ketat seperti China. Pasalnya, BI telah melakukan pelonggaran likuiditas di tahun lalu dengan melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata dan operasi moneter.

Sementara di China dalam mendorong perekonomiannya, di satu sisi harus menjaga stabilitas mata uangnya. Namun, di sisi lain juga harus melakukan relaksasi terhadap pasokan yuan dari likuditas dalam negerinya.

"Kalau kita lihat kan China, ingin menjaga juga tidaknya stabilitas eksternalnya termasuk dampak dari ketegangan. Tapi juga bagaimana tetap ekonominya tumbuh," kata dia.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi China pada 2019 yang semula bisa tumbuh 6,5 persen dikoreksi menjadi 6,2 persen. Pengoreksian juga dialami oleh pertumbuhan ekonomi global yang semula 3,9 persen menjadi 3,7 persen.

"Ada risiko resiko turun menjadi 6,2 persen, makanya Bank Sentral China melakukan langkah-langkah bauran kebijakan tadi itu yang mereka lakukan," ucapnya.

Hal ini disebabkan, ketidakstabilan ekonomi global yang cenderung masih akan berlanjut pada tahun ini. Apalagi China terlibat perang dagang dengan negara adidaya Amerika Serikat.

Gubernur Bank Sentral China Yi Gang sebelumnya mengatakan dalam perhelatan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, ekonomi global memang masih dibayangi ketidakpastian. Tensi perang dagang menjadi salah satu tantangan utama.

Yi Gang menyuarakan nada yang sama dengan laporan Dana Moneter Internasional (IMF) beberapa waktu lalu, bahwa perang dagang bisa menghadirkan ekspetasi pasar yang negatif. Kebijakan moneter China, di tengah dampak perang dagang, kata Yi Gang, masih netral.

Posisi kebijakan moneter negara raksasa ekonomi Asia itu tidak cenderung longgar maupun ketat. "Anda dapat melihat China masih memiliki ruang cukup untuk penyesuaian kebijakan," ujar Yi Gang.


Editor : Ranto Rajagukguk