Tekan Defisit Perdagangan dengan China, Kemendag Genjot Ekspor Produk Herbal

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Kamis, 11 Juli 2019 - 20:45 WIB
Tekan Defisit Perdagangan dengan China, Kemendag Genjot Ekspor Produk Herbal

Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya menekan angka defisit perdagangan Indonesia dengan China yang sebesar 18,41 miliar dolar AS pada 2018. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya menekan angka defisit perdagangan Indonesia dengan China yang sebesar 18,41 miliar dolar AS pada 2018. Adapun pada tahun tersebut, nilai perdagangan Indonesia-China mencapai 72 miliar dolar AS.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Eskpor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Marolop Nainggolan mengatakan, Indonesia dapat memanfaatkan potensi pasar China yang penduduknya berjumlah 1,4 miliar orang. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya tentu pemerintah China tidak dapat mengatasinya sendiri.

"Kita harus kejar kalau gap-nya 18 miliar dolar AS yang harusnya bisa kita kejar, harus dikejar gimana caranya bisa lebih dari 18 miliar dolar AS didapat dari perdagangan di tahun 2019," ujarnya saar konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Dengan jumlah penduduk sebesar itu, masyarakat China juga terus mengalami kenaikan pendapatan yang akan berpengaruh pada meningkatnya konsumsi masyarakat. Pada tiga tahun lalu upah minimum penduduk China sekitar Rp8 juta per bulan.

"Setengah saja dari UMR dikali 1,4 miliar jiwa di China ini jadi pasar yang besar sehingga kita harus kejar bahwa perdagangan kita dengan China ini harus kita kurangi gap-nya 18 miliar dolar AS itu harus berkurang," kata dia.

Menurut dia, ada beberapa komoditas yang diminati masyarakat China yaitu di sektor makanan dan minuman hingga produk kesehatan. Indonesia yang memiliki kekayaan alam sangat potensial dalam memproduksi produk-produk herbal bagi kesehatan.

"Produk kesehatan sangat diminati, katakan yang ringan-ringan, obat gosok, minuman herbal, yang tentunya di Indonesia cukup banyak sumber di kita yang memang siap untuk kita produksi. Masyarakat China itu lebih memperhatikan kesehatan, kesehatan tubuh sangat diperlukan oleh konsumen China. Saya kira ini bisa jadi salah satu pasar yang cukup besar untuk kita dengan produk-produk itu," ucapnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang tahun 2018 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 8,57 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Defisit ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, angka ini merupakan yang tertinggi sejak data pertama yang dimiliki. Ia menjelaskan, data ekspor-impor Indonesia sejak 1945 terputus hingga 1975.

"Sejak 1945 kita terputus datanya ya. Itu sampai tahun 1975. Kalau terbesar yang 2018 ini ya besar," ujar Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Suhariyanto juga kemudian mengatakan, pada tahun 1975 defisit neraca perdagangan hanya sebesar 391 juta dolar AS.


Editor : Ranto Rajagukguk