Tiket Mahal Garuda Sebabkan Omzet UMKM Turun 60 Persen

Ranto Rajagukguk ยท Senin, 08 April 2019 - 15:05 WIB
Tiket Mahal Garuda Sebabkan Omzet UMKM Turun 60 Persen

Tiket pesawat yang mahal gerus omzet pelaku UMKM. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) mendesak pemerintah menurunkan tarif tiket pesawat karena menggerus kegiatan operasional pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kenaikan tarif batas bawah tiket pesawat dari semula 30 persen menjadi 35 persen dari batas atas, kenyataannya tak mendorong maskapai penerbangan nasional menurunkan banderol tiket pesawatnya.

Hingga saat ini maskapai penerbangan nasional masih bertahan dengan penetapan tarif tiket pesawat yang cenderung tak bisa dijangkau masyarakat. Sekalipun ada penyesuaian tarif, sifatnya temporer atau dalam periode waktu tertentu saja.

Misalnya saja, Garuda Indonesia yang hanya menetapkan diskon tarif hingga 50 persen tanpa ada penurunan yang benar-benar permanen. Ketika diskon tarif ini berakhir, masyarakat harus membeli tiket pesawat dengan harga yang mahal.

“Akumindo berharap pemerintah segera menurunkan tarif tiket pesawat penumpang,” kata Ketua Umum Akumindo Ikhsan Ingrabutun, Senin (8/4/2019).

Dia menilai, tarif tiket pesawat yang mahal bisa melumpuhkan kegiatan operasional pelaku UMKM. Pasalnya, banyak pelaku UMKM yang beroperasi di tempat wisata dan bergantung dari kunjungan wisatawan.

Namun, dengan harga tiket pesawat yang cenderung mahal, masyarakat akan berpikir ulang untuk mengunjungi tempat wisata. Alhasil, omzet harian pelaku UMKM yang bergantung dari kunjungan wisatawan pun mengalami penurunan tajam.

“Hal ini berdampak kepada omzet penjulan yang turun hingga rata-rata 60 persen dari produk-produk UMKM,” ujar Ikhsan.

Sebagai informasi, tarif batas bawah tiket pesawat resmi dinaikkan dari 30 persen menjadi 35 persen dari batas atas. Penyesuaian ini diharapkan mendorong maskapai penerbangan nasional menyesuaikan tarif tiket pesawat yang tak kunjung turun meski masuk masa permintaan rendah (low season).

Menteri Perhubungan Budi Karya memaparkan, jika maskapai penerbangan nasional tak menurunkan harga tiket pesawat, pihaknya segera menyiapkan kebijakan baru lewat penerapan subclass. "Tarif batas atas sudah tidak ada penurunan. Kita tinggal bikin subclass saja kalau (tarif) belum turun," kata Menteri Perhubungan Budi Karya di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (3/4/2019).

Budi mengatakan, maskapai memiliki sistem subclass di setiap kelas, termasuk kelas ekonomi. Setiap subclass menawarkan fasilitas yang berbeda-beda, seperti besaran jatah bagasi, biaya penjadwalan ulang tiket, jenis makanan yang diperoleh, dan masa berlaku tiket.

"Subclass itu contohnya, yang boleh full price itu 20 persen, 20 persen lagi itu tarifnya 70 persen (dari tarif normal), tapi nanti kita tentukan," katanya.


Editor : Ranto Rajagukguk