Tiket Pesawat Naik, Menhub: Industri Airline Juga Harus Dilindungi

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Sabtu, 12 Januari 2019 - 19:04 WIB
Tiket Pesawat Naik, Menhub: Industri Airline Juga Harus Dilindungi

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Kenaikan tarif pesawat penerbangan domestik sejak akhir tahun lalu hingga sekarang menjadi keluhan masyarakat. Bahkan, masyarakat membuat petisi agar tarif batas atas tiket pesawat diturunkan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah menyadari hal ini namun keberlangsungan industri penerbangan juga perlu diperhatikan. Lagipula kenaikan tersebut masih berada di bawah tarif batas atas yang ditentukan pemerintah.

"Industri airline ini juga harus dilindungi, artinya mereka pada titik tertentu supaya mereka juga survive," ujarnya di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (12/1/2019).

Menurut dia, besaran tarif pesawat saat ini merupakan tarif yang seharusnya diberlakukan. Namun, karena beberapa waktu lalu antar maskapai perang harga dengan memberikan tarif murah sesuai batas bawah yang ditentukan.

"Memang selama ini mereka perang tarif, begitu harganya normal jadi seolah-olah tinggi," kata dia.

Akibat perang harga ini, tak sedikit maskapai penerbangan di luar negeri yang gulung tikar karena menanggung kerugian. Oleh karenanya, hal ini harus segera diakhiri.

"Kita lihat di beberapa negara banyak industri yang sudah bangkrut. Terus terang saja," ucapnya.

Kendati demikian, untuk menyikapinya, pemerintah telah mengimbau setiap maskapai untuk tidak menaikkan tarif secara drastis agar masyarakat tidak kaget. Namun, imbauan ini belum mendapat tanggapan dari pihak maskapai.

"Saya memang ajak mereka untuk secara bijaksana melakukan kenaikan secara bertahap. Kami lagi bicara," tuturnya.

Selain itu, pemerintah juga meminta masyarakat untuk memaklumi kenaikan tarif pesawat ini. "Maskapai juga diminta jangan menaikkan terlalu tinggi," ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat angka inflasi pada Desember 2018 sebesar 0,62 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan tarif angkutan udara dinilai menjadi kontributor utama penyebab inflasi.

"Secara umum inflasi Desember 0,62 persen ini dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara, harga telur ayam ras dan daging ayam ras. Itu tiga komponen utama," ujar Kepala BPS Suhariyanto, di Jakarta, Rabu (2/1/2018).

Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, menjadi kelompok terbesar kedua yang mengalami inflasi, dengan angka 1,28 persen, dan memberikan andil 0,24 persen. Ia menjabarkan kelompok transportasi yang mengalami inflasi tertinggi, yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,19 persen, disusul kereta api sebesar 0,03 persen, dan angkutan antar-kota sebesar 0,01 persen.


Editor : Ranto Rajagukguk