Toyota Kecewa Kontribusinya bagi Ekonomi Amerika Tidak Dihargai

Rahmat Fiansyah ยท Minggu, 19 Mei 2019 - 14:08 WIB
Toyota Kecewa Kontribusinya bagi Ekonomi Amerika Tidak Dihargai

Toyota. (Foto: AFP)

NEW YORK, iNews.id - Toyota Motor Corp mengkritik keras pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut mobil impor mengancam keamanan nasional Amerika. Perusahaan raksasa otomotif asal Jepang merasa tidak dihargai.

"Itu memberikan pesan kepada Toyota bahwa investasi kami tidak disambut dengan baik, dan kontribusi dari setiap pegawai di seluruh Amerika tidak dihargai," kata Toyota melalui keterangan resmi, dilansir Bloomberg, Minggu (19/5/2019).

Toyota menilai, AS merupakan salah satu mitra strategis. Perusahaan itu mengaku telah menghabiskan dana lebih dari 60 miliar dolar AS, termasuk untuk membangun 10 pabrik manufaktur. Bahkan, Toyota mengumumkan rencana untuk menambah investasi 3 miliar dolar AS pada dua bulan lalu.

Pada Jumat (17/5/2019) lalu, Trump mengamini hasil investigasi Departemen Perdagangan AS bahwa impor kendaraan dan komponennya telah mengancam keamanan nasional. Hal tersebut lantaran pangsa pasar produsen otomotif lokal AS terus turun sejak 1980-an. Atas dasar itu, Gedung Putih menetapkan batas waktu 6 bulan bagi Jepang dan Uni Eropa untuk bernegosiasi.

Toyota berharap negosiasi itu bisa segera menemui jalan keluar. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa upaya mengurangi impor akan merugikan warga AS sekaligus berlawanan dengan semangat untuk mendorong ekonomi dan membuka lapangan kerja.

"Bisnis dan pegawai kami telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi kehidupan warga AS, ekonomi AS, dan bukan ancaman keamanan nasional," tulis Toyota.

The Alliance of Automobile Manufacturers, asosiasi produsen otomotif dalam dan luar AS mengeluarkan pernyataan yang lebih diplomatis. Menurut asosiasi, pengenaan tarif yang lebih tinggi bisa mengancam 700 ribu pekerja di industri ini.

"Kami sangat prihatin dengan rencana pemerintah menerapkan tarif tambahan untuk otomotif. Dengan mendorong kenaikan harga yang berdampak pada biaya perbaikan dan pemeliharaan, kebijakan tarif sebenarnya bentuk pajak yang luar biasa besar bagi konsumen," kata kelompok dagang tersebut.


Editor : Rahmat Fiansyah