Tradisi Mudik Bisa Dimanfaatkan untuk Tingkatkan Ekonomi Daerah

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 17:35 WIB
Tradisi Mudik Bisa Dimanfaatkan untuk Tingkatkan Ekonomi Daerah

Center of Reform on Economics (CORE) menilai tradisi mudik bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian daerah. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Center of Reform on Economics (CORE) menilai tradisi mudik bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian daerah. Pasalnya, saat ini masih banyak kesenjangan ekonomi, bahkan di Pulau Jawa.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini mengatakan, setiap tahunnya Bank Indonesia (BI) memasok uang tunai untuk mengantisipasi lonjakan permintaan saat Lebaran. Hal ini bisa menjadi momen untuk investasi pembangunan daerah.

"Pada 2015, sebesar Rp125 triliun. Di tahun 2019 diperkirakan di atas Rp200 triliun. Mau diapakan uang sedemikian besar yang menyebar dari kota besar ke kota kecil?" ujarnya di Hotel Morrissey, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Pada Lebaran ini, beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) ada yang berupaya meningkatkan perekonomian di daerahnya. Misalnya dengan membangun destinasi wisata dengan menggunakan dana desa untuk memanfaatkan mobilitas pemudik.

Selain itu, dari segi sumber daya manusia juga terjadi pergeseran karena orang-orang berpendidikan tinggi di kota menuju desa selama mudik. Hal ini bisa dimanfaatkan Pemda untuk berbagi pengetahuan.

"Jika hal ini dibangun dengan masif, maka akan ada ratusan daerah yang menerima orang pintar yang siap menginvestasi daerah," kata dia.

Pemda juga ada yang membangun pusat oleh-oleh yang perlu dikembangkan agar menarik bagi pemudik yang melewati daerahnya. Di sinilah peran pemerintah untuk mendukung dengan memberikan pendanaan dan membuat studi kelayakan.

"Ada banyak daerah yang sejak dulu oleh-olehnya hanya itu-itu saja. Tetapi kalau di Bandung, Yogya, Bali dan sebagainya oleh-oleh berkembang pesat dan sangat variatif," ucapnya.

Menurut dia, hal ini perlu dilakukan agar dapat mengurangi kesenjangan yang masih terjadi di mayoritas daerah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan terdorong dan tingkat kemiskinan dapat berkurang.

"Kemiskinan terbanyak ya ada di Jawa. Persentase kemiskinan di kota dan desa belum ada perubahan," tutur dia.


Editor : Ranto Rajagukguk