Wapres JK Sebut Idealnya Jumlah Bank di RI Hanya 30

Rully Ramli ยท Rabu, 27 Februari 2019 - 15:13 WIB
Wapres JK Sebut Idealnya Jumlah Bank di RI Hanya 30

Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id – Di tengah era disrupsi saat ini, teknologi berkembang cukup pesat sehingga memengaruhi sektor perekonomian nasional. Fenomena semacam ini juga mengubah wajah perbankan nasional.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjelaskan, dengan perkembangan zaman yang terus maju, jumlah bank yang beroperasi di dalam negeri cenderung berkurang. Hal ini terlihat dari tren perkembangan bank sejak krisis moneter pada 1998.

"Kita punya kesalahan yang menyebabkan krisis moneter, ialah terlalu mudah untuk buka bank. Tahun 1998, ada 250 bank. Sekarang sekitar 118 bank," ujar JK di dalam acara Dies Natalis ke-50 Perbanas, di Perbanas Institute, Jakarta, Rabu (27/2/2019).

JK yang juga menjabat sebagai ketua Palang Merah Indonesia (PMI) ini menambahkan, dengan adanya perkembangan teknologi saat ini akan semakin meminimalkan jumlah bank di Indonesia. "Saya perkirakan yang ideal 20-30 bank," katanya.

Menurut dia, perkembangan teknologi akan mendorong perbankan untuk melakukan konsolidasi untuk terus bertransformasi. Hal ini menjadi cukup krusial jika bank ingin bertahan di era disrupsi.

Pria kelahiran Watamone, Sulawesi Selatan itu menambahkan, konsolidasi juga menjadi perlu bagi perbankan untuk memaksimalkan penggunaan teknologi, mendorong kinerja sekaligus efektivitas. Pasalnya, saat ini bank bukan hanya bicara mengenai kepercayaan, tapi juga kemudahan dan kecepatan yang berbasiskan teknologi.

"Karena bisnis kepercayaan dan teknologi, kalau yang tidak punya teknologi akan tersingkir, karena tidak semua bisa," kata JK.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana untuk merampingkan jumlah bank yang ada di Indonesia. Saat ini, ada 115 bank di Tanah Air

Perampingan tersebut akan dilakukan lewat revisi terhadap single presence policy (SPP). Nantinya, pemegang saham pengendali nantinya boleh mengendalikan lebih dari satu bank untuk dimerger.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, saat ini pihaknya masih memantau kebutuhan pasar terkait jumlah bank. Ia juga menjelaskan, hanya bank dalam kondisi sehat saja yang nantinya akan dipertahankan. Sementara, bank yang sedang dalam keadaan tidak sehat ia menyarankan untuk mencari mitra

"Jangan berdebat jumlah, kan menjadi debat kusir. Kita ikuti saja market base yang ada, kalau memang layak hidup ya hidup, kalau sakit ya cari partner,” ujar Wimboh.


Editor : Ranto Rajagukguk