Prediksi LPS: Bunga Acuan Terbuka untuk Disesuaikan

Ade Miranti Karunia Sari · Selasa, 15 Mei 2018 - 18:46 WIB

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi, Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate. Hal ini seiring meningkatnya volatilitas di pasar keuangan dan tekanan nilai tukar.

"Bunga acuan terbuka untuk disesuaikan," kata LPS dalam rilis indikator likuiditas yang dikutip, Selasa (15/5/2018).

LPS menuturkan, kenaikan suku bunga acuan memang akan menjadi pertimbangan utama otoritas moneter karena BI berupaya mendorong terciptanya stabilitas sistem keuangan. Namun, di sisi lain, BI juga akan terus berupaya mengirimkan sinyal mengenai langkah kebijakan yang ditempuh melalui operasi moneter di pasar valas dan rupiah sebelum mengubah suku bunga.

"Oleh karena itu arah Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) akan cencerung naik sebagai antisipasi atas perubahan bunga acuan dan kebutuhan likuiditas perbankan," kata LPS.

LPS menilai, sentimen pasar global terutama kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) akan menjadi landasan BI untuk mengubah suku bunga acuan. Pasca kenaikan di bulan Maret 2018, potensi kenaikan Fed rate hingga akhir tahun 2018 masih menjadi fokus utama bagi pelaku pasar keuangan global.

"Menurut konsensus ekonom, bunga acuan AS itu diperkirakan masih akan naik sebanyak 75 bps hingga akhir tahun," tutur LPS.

Potensi kenaikan Fed rate ini kata LPS telah mendorong penguatan dolar AS dan memicu volatilitas di pasar keuangan global. Selain itu, sentimen pasar global juga masih akan diwarnai oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi perang dagang antara AS dengan China, kenaikan harga minyak dunia, serta memanasnya tensi geopolitik antara AS dengan Iran.

Gubernur BI Agus Martowardojo sebelumnya mengatakan, pihaknya memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo). Respons kebijakan tersebut akan dijalankan secara konsisten dan pre-emptive untuk memastikan keberlangsungan stabilitas. Selain itu, BI juga akan konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien, sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing dan pasar uang tetap terjaga dengan baik.

“Operasi moneter di pasar valuta asing tetap akan dilakukan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar agar keyakinan pelaku ekonomi dapat dipastikan tetap terjaga. Operasi moneter di pasar uang akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai dan terjaganya stabilitas suku bunga di pasar uang, dalam koridor yang sejalan dengan stance kebijakan moneter BI,” ujar Agus Marto.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR