Rupiah Menguat, Namun Masih di Atas Rp14.000 per Dolar AS

Isna Rifka Sri Rahayu · Kamis, 17 Mei 2018 - 10:09 WIB

ilustrasi. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di pasar spot pada perdagangan Kamis (17/5/2018) pagi. Namuun, kurs rupiah masih belum beranjak dari level Rp14.000 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp14.065 per dolar AS pada pukul 10:00 WIB, naik 32 poin atau 0,23 persen, dibandingkan posisi penutupan kemarin di level Rp14.097 per dolar AS.

Pada awal sesi, rupiah langsung dibuka menguat 22 poin di Rp14.075 per dolar AS. Sejauh ini, rupiah bergerak dalam rentang 14.065 – 14.083. Sementara sejak awal tahun, rupiah melemah 3,81 persen terhadap greenback.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada pukul 10:05 WIB juga menguat 28 poin atau 0,20 persen di level Rp14.060 per dolar AS. Mata uang Garuda sejauh ini bergerak pada kisaran 14.048 – 14.088.

Berdasarkan data kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada 17 Mei 2018, rupiah diperdagangkan di level 14.074 per dolar AS, menguat 20 poin dibandingkan posisi kemarin di level Rp14.094 per dolar AS.

Pada perdagangan hari ini, rupiah berpeluang terapresiasi terhadap dolar AS dengan kisaran level 13.945 hingga 14.125 per dolar AS. Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, secara teknikal pada USD-IDR daily chart terlihat pola bearish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi penguatan bagi rupiah terhadap dolar AS.

Sentimen terhadap rupiah masih datang dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Juni, sehingga memberikan efek hawkish bagi dolar AS. Sentimen dari dalam negeri berasal dari konsensus pasar yang ingin agar  Bank Indonesia menaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Hal tersebut mengingat pergerakan rupiah terhadap dolar AS sudah berkisar di antara level 14 000 hingga di atas level 14.100.

"Pergerakan rupiah terhadap dolar AS diharapkan mendapatkan sentimen positif dari penetapan BI 7-Day Repo Rate," ujarnya.

Adapun gangguan keamanan akibat dari aksi terorisme yang terjadi secara beruntun hanya memberikan efek yang kecil bagi pelemahan rupiah. Hal ini disebabkan penguatan dolar AS lebih dipengaruhi oleh katalis positif dari meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun yang hampir menembus 3,1 persen.

"Apalagi didukung oleh sentimen positif di atas, maka rupiah diprediksikan berpotensi terapresiasi terhadap dolar AS," kata Nafan.


Editor : Rahmat Fiansyah

TAG : rupiah

KOMENTAR