Tarif LRT Jakarta Rp10.000-14.000, Asian Games Diskon Jadi Rp6.000

Koran SINDO · Kamis, 17 Mei 2018 - 11:23 WIB

Pekerja dibantu alat berat menarik gerbong kereta ringan/Light Rail Transit (LRT) di Pelabuhan Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (13/4/2018). Sebanyak satu rangkaian atau dua gerbong kereta ringan/LRT tiba di Pelabuhan Car Terminal, Jakarta yang selanjutnya akan dipergunakan pada LRT jalur Kelapa Gading - Velodrome untuk dipergunakan dalam perhelatan Asian Games 2018 pada Agustus mendatang. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id - PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mengebut proyek light rail transit (LRT) Kelapa Gading-Velodrom. 

Percepatan dilakukan dengan mendatangkan enam gerbong kereta pada akhir bulan ini. Padahal, sebelumnya PT Jakpro dijadwalkan hanya mendatangkan dua gerbong. Kemudian, enam gerbong lagi akan datang pada Juni nanti sehingga pada perhelatan Asian Games 2018 sebanyak 16 gerbong yang dipesan sudah datang semua di Jakarta.

“Kami harap tidak ada kendala pengiriman gerbong. Ketika Asian Games, diprediksi hanya delapan dari 16 gerbong yang mendapatkan sertifikasi dan bisa beroperasi,” ujar Direktur Utama PT Jakpro Satya Heragandhi di Balai Kota DKI Jakarta, kemarin.

Untuk memperoleh sertifikasi tentunya pemerintah pusat yang memiliki kewenangan melakukan itu. Sayangnya, LRT baru pertama kali di Indonesia sehingga peralatan uji coba untuk sertifikasi belum ada dan harus dilengkapi terlebih dulu. Menurut Satya, seluruh proyek konstruksi pendukung Asian Games yang ditugaskan pada PT Jakpro berjalan sesuai jadwal, bahkan sampai tahap penyelesaian sertifikasi.

Keterlambatan hanya terjadi di bagian atas antara Velodrom-Kelapa Gading dan bisa diatasi dengan menggeser pengerjaan ke depo, lalu baru dipasang kembali di segmen atas. Hingga 28 April lalu, pengerjaan sudah sekitar 77,4 persen.

Dia optimistis proyek LRT akan selesai pada pertengahan Juni dan mendapatkan sertifikasi pada Juli. Selain itu, Jakpro telah mempersiapkan SDM dan penghitungan tarif serta biaya operasional termasuk perawatan LRT. Menurut dia, ada biaya perawatan nonsipil (noninfrastruktur) yang diserahkan Pemprov DKI kepada Jakpro yang pastinya akan membebani biaya tarif operasional LRT.

“Pada prinsipnya, tarif tidak menggunakan mekanisme subsidi. Kami beranggapan sekitar Rp10.000-14.000. Ada batas atas dan bawah. Jadi, ketika traffic kosong bisa lebih murah,” kata Satya.

Meskipun LRT baru sampai Velodrom-Kelapa Gading, pengguna LRT untuk mencapai Dukuh Atas hanya cukup mengeluarkan sekitar Rp10.000- 14.000. Saat perhelatan Asian Games, rencananya ada diskon menjadi Rp6.000.

Dalam waktu dekat Jakpro akan duduk bersama dengan DPRD DKI membahas tarif supaya sebisa mungkin tidak meminta subsidi berupa public service obligation (PSO). Pertemuan dengan DPRD juga akan membicarakan pembangunan fase II dari Velodrom menuju Tanah Abang yang rencananya memakai skema Kerja Sama Peme - rintah Daerah dengan Badan Usaha (KPDBU). Nantinya pihak swasta melakukan investasi untuk membangunnya.

“Hitungan tarif itu tetap dari Kelapa Gading hingga Dukuh Atas. Tarif tidak boleh di atas taksi dan ojek online. Tarif taksi ke Dukuh Atas sekitar Rp36.000-41.000. Sepeda motor Rp19.000-24.000 sehingga tarif LRT Rp10.000-14.000 masih terjangkau. Tidak perlu macet,” kata Satya.

Ketua Bidang Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana meminta PT Jakpro bersama Pemprov DKI dan Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Trans portasi Jabodetabek (BPTJ) mematangkan trase LRT yang menjadi kewenangan DKI sebelum membahas tarif se hingga integrasi moda transportasi tercipta dan tidak berimpitan dengan moda transportasi massal lainnya.

Sejauh ini Jakpro dan Pemprov DKI belum memiliki trase LRT yang jelas. Rencana per panjangan ke Tanah Abang menjadi salah satu contoh belum matangnya kajian trase, padahal trase itu penting agar moda transportasi massal terinte grasi. “Integrasi itu bukan hanya fisik. Sistem pembayaran dan jadwalnya juga harus terintegrasi,” ucapnya. (Bima Setiyadi).


Editor : Rahmat Fiansyah

KOMENTAR