Ingin Sukses, Bill Gates Berjuang Tinggalkan Kebiasaan Buruk Ini

Rahmat Fiansyah ยท Kamis, 17 Mei 2018 - 15:49 WIB
Ingin Sukses, Bill Gates Berjuang Tinggalkan Kebiasaan Buruk Ini

Pendiri Microsoft, Bill Gates. (Foto: AFP)

SEATTLE, iNews.id – Bill Gates, orang terkaya nomor dua di dunia, bukan orang yang sempurna. Di masa lalu, sejumlah kebiasaan buruk melekat pada dirinya. Salah satunya yaitu tidak mampu mempercayai orang lain dan berbagi tanggung jawab.

Saat awal-awal Microsoft berdiri, Gates hampir melakukan semua pekerjaan mengembangkan perangkat lunak (software). Seiring berkembangnya perusahaan, dia mengaku belajar satu hal yang begitu membekas dalam hidupnya.

“Kalau Anda ingin cepat maju, biasanya, delegasi adalah hal yang penting,” kata Gates di hadapan mahasiswa Harvard, dikutip dari CNBC, Kamis (17/5/2018).

Ketika mendirikan Microsoft, Gates menuturkan dirinya tidak hanya menulis sebagian koding, tapi juga membaca dan menulis ulang koding yang dikerjakan orang lain.

Pada satu titik, dia memutuskan untuk berhenti merevisi dan menyempurnakan pekerjaan rekan-rekannya.

“Saya berkata pada diri saya, ‘Oke, kita akan mengirimkan koding yang tidak saya utak atik lagi.’ Dan itu sangat sulit bagi saya, karena saya sudah terbiasa melakukan hal semacam itu,” katanya.

Gates yang memiliki harta lebih dari 90 miliar dolar AS ini mengaku kebiasaan melakukan manajemen mikro (micro managing) atau terbiasa mengurusi hal-hal yang kecil ini terus berlanjut hingga Microsoft memiliki 40 pegawai. Dia juga mengungkapkan kebiasaanya mengingat nomor plat pegawainya untuk mengetahui siapa yang bekerja paling lama.

Ketika merekrut pegawai, Gates mengaku akan berbicara secara personal kepada calon pegawai sekaligus me-review kemampuannya. Dia mengatakan kepada si calon pegawai: “Oke, saya akan mewawancarai mereka dan akan melihat contoh kodingnya.”

Proses itu diakuinya sangat menyita waktu dan membuat produktivitas tim merosot.

“Ada suatu masa dimana saya menjual software lebih banyak daripada menulis koding, dan saya saat itu berpikir akan terus merekrut dengan cara seperti itu. Tapi, permintaan (software) saat itu sangat tinggi dan kita kelimpungan,” ucap Gates.

Kebiasaan buruk itu berakhir setelah Gates merekrut teman kuliahnya, Steve Ballmer. Steve mengajarkan Gates bagaimana cara merekrut banyak orang tanpa mengurangi kualitas, sekaligus membangun organisasi dan tim.

“Jadi, saya mendelegasikannya kepada Steve dan dia selalu bilang pada saya, ‘Oke, kita akan merekrut programer yang belum pernah kamu temukan.’ Tapi saya meragukannya, lalu dia menyodorkan argumennya, dan saya berkata, ‘Oke.’”

Gates menyadari Microsoft hanya akan sukses kalau dia belajar untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Menurut dia, tidak mungkin satu orang bisa mengerjakan semuanya, apalagi melakukan yang terbaik. Sebagai pemimpin, dia mengaku seharusnya fokus pada hal-hal strategis yang bisa mendorong kemajuan perusahaan.

“Akhirnya, tugas saya menjadi seorang pemimpin dan me-review kinerja manajer, tapi dengan orang-orang yang punya jabatan tinggi, dan saya merekrut orang-orang yang sangat berpengalaman. Saya akan memastikan mereka punya visi yang sama dan bisa bekerja sama dengan baik,” katanya.

Kini Gates lebih sibuk mengelola yayasan dan duduk sebagai komisaris di Microsoft. Perusahaan yang didirikannya kini menjadi perusahaan besar. Dia juga menyebut, proses rekrutmen Microsoft jauh lebih baik daripada yang dia lakukan dulu

“Mencari tahu apa kemampuan Anda dan bagaimana Anda menemukan orang lain untuk mengisi posisi-posisi, itu sangat penting,” ujarnya.


Editor : Rahmat Fiansyah