Soal Utang Pemerintah, Sri Mulyani: Jangan Lihat Nominalnya

Ade Miranti Karunia Sari · Kamis, 17 Mei 2018 - 18:26 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Posisi utang pemerintah hingga 30 April 2018 mencapai Rp4.180,61 triliun atau tumbuh 13,99 persen. Posisi utang pemerintah ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp3.667,41 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, utang yang bertambah ini akan menjadi sorotan banyak kalangan. Meski secara nominal utang pemerintah bertambah tetapi secara persentase capaian itu tidak tumbuh secara signifikan.

"Kalau lihat growth-nya kecil banget, 6,2 persen dibandingkan tahun lalu 5,6 persen dan tahun sebelumnya 5,8 persen," ucapnya dalam konfrensi pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Sri Mulyani mengakui, utang tersebut memang mengalami peningkatan yang cukup besar jika berkaca pada posisi di tahun lalu. Namun, banyak kalangan yang tidak membandingkan secara persentase sehingga nominalnya akan terlihat besar.

"Nominal tetap tinggi dan ini yang sering dipakai oleh beberapa politisi cuma melihat nominal, padahal dilihat dari underline-nya mengalami perbaikan yang sangat konsisten dalam tiga tahun terakhir," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Luky Alfirman menjelaskan, utang pemerintah pada Maret 2018 sebesar 180 miliar dolar AS. "Jangan disamakan lagi utang Rp5.000 triliun tadi itu seolah utang pemerintah semua," kata Luky.

Adanya pertambahan utang pemerintah tersebut, lanjut Luky, sengaja dilakukan untuk mengantisipasi adanya gejolak ekonomi dunia yang terjadi. "Jadi, kita melakukan up side di awal-awal tahun saat kondisi market sedang bagus," ujarnya.

Sejalan dengan fundamental perekonomian Indonesia yang baik, Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 30 April 2018 diperkirakan mencapai Rp13.991,93 triliun. Dengan capaian PDB tersebut, rasio utang pemerintah terhadap PDB tetap terjaga di bawah 30 persen, yakni pada level 29,88 persen.

Dari segi komposisi utang, pinjaman pemerintah yang berasal dari kreditur komersial mengalami penurunan negatif sebesar 1,81 persen, di mana pada akhir April 2017, outstanding utang pemerintah dari kreditur komersial sebesar Rp43,09 triliun. Sementara, pada bulan yang sama tahun ini sebesar Rp42,31 triliun.

Pertumbuhan pinjaman luar negeri dan dalam negeri tahunan untuk 30 April 2017 dan 30 April 2018 secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 5,28 persen year on year (yoy). Sedangkan pertumbuhan tahunan untuk Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 16,18 persen yoy.

Hingga akhir April 2018, SBN dalam mata uang rupiah yang telah diterbitkan pemerintah sebesar Rp2,049 triliun untuk Surat Utang Negara (SUN) dan sebesar Rp377,96 triliun untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Sementara, untuk SBN dalam valuta asing hingga April 2018 telah diterbitkan sebesar Rp764,28 triliun dalam bentuk SUN dan sebesar Rp215,09 triliun dalam bentuk SBSN.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR