BI Berpeluang Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

Isna Rifka Sri Rahayu · Kamis, 17 Mei 2018 - 20:36 WIB

Bank Indonesia berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan jika memang diperlukan untuk menjaga makroekonomi. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan siap untuk kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Days Repo Rate jika diperlukan. Hal ini sebagai komitmen BI untuk untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pada 2018 negara maju mulai mengarah pada normalisasi di kebijakan moneternya. Dengan demikian, bunga yang tinggi akan terealisasi secara bertahap karena dampak perkembangan di dunia, sehingga akan ada aliran dana dari negara berkembang mengarah ke Amerika Serikat (AS).

Ke depan, BI akan terus memonitor perkembangan ekonomi global guna memastikan stabilitas makroekonomi dan tingkat inflasi tetap terjaga. Langkah yang kuat ini juga akan dilakukan pada seluruh instrumen yang dimiliki BI maupun yang dikoordinasikan bersama pemerintah.

"Kalau kondisi mengharuskan untuk kami kembali melakukan penyesuaian policy rate kami tidak ragu untuk lakukan. Kami tidak ragu menyampaikan bahwa rebalancing yang terjadi tentu akan kita pantau. Termasuk melakukan penyesuaian policy rate," ucapnya saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Sebagaimana diketahui, pada Rapat Dewan Gubernur BI bulan ini suku bunga acuan BI naik sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen. Dengan demikian, suku bunga deposit facility menjadi sebesar 3,75 persen dari 3,5 persen dan lending facility menjadi sebesar 5,25 persen dari 5 persen.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi global 2018 diprakirakan semakin baik, meskipun di saat bersamaan sedang berlangsung proses penyesuaian likuiditas global. Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan mencapai 3,9 persen, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,8 persen, terutama didorong oleh akselerasi ekonomi AS yang bersumber dari penguatan investasi dan konsumsi, di tengah  berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter AS.

Dari Eropa, pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan tumbuh lebih tinggi didukung perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif. Dari negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan tetap cukup tinggi ditopang kenaikan konsumsi dan investasi swasta serta proses penyesuaian ekonomi yang berjalan dengan baik.

"Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada tetap kuatnya harga komoditas, termasuk komoditas minyak, pada 2018," tuturnya.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR