Ini Tiga Alasan BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Isna Rifka Sri Rahayu · Kamis, 17 Mei 2018 - 21:59 WIB

Gubernu Bank Indonesia Agus Martowardojo. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan ke level 4,5 persen setelah terus mempertahankan di level 4,25 persen delapan bulan berturut-turut. Kenaikan ini tentu dengan mempertimbangkan beberapa aspek guna menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya perlu menjaga perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global yang cukup tinggi di pasar keuangan dunia. Termasuk adanya kondisi normalisasi (rebalancing) likuiditas aliran dana global dari negara berkembang ke Amerika Serikat (AS).

Normalisasi ini disebabkan oleh kenaikan Fed Fund Rate yang diperkirakan lebih cepat membuat negara-negara maju mengarah pada normalisasi dalam kebijakan moneternya. Oleh karena itu, bunga yang tinggi di negara-negara global akan terealisasi secara bertahap.

"Untuk itu kita memutuskan untuk mengeluarkan bauran kebijakan ini. Di antara bauran kebijakan ini juga ada policy rate (suku bunga acuan)," kata dia saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (18/5/2018).

Untuk itu, BI merespons normalisasi tersebut dengan melakukan bauran kebijakan operasional moneter guna menjamin likuiditas di pasar valuta asing maupun pasar uang. "Kami juga merespons dengan koordinasi yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait bahwa reformasi struktural akan terus berlanjut," tuturnya.

Selain itu, pemerintah juga merespons dengan mengeluarkan insentif pajak seperti Tax Holiday dan Tax Allowance. Sekarang ini, pemeritah tengah melakukan kajian di sektor fiskal terkait undang-undang penerimaan negara.

"Jadi BI menambahkan ini juga dengan menaikkan policy rate," kata Agus.

Pihaknya melihat ada potensi kenaikan Fed Fund Rate sebanyak empat kali sepanjang 2018, sedangkan pada 2019 diperkirakan naik dua kali. Hal ini dikarenakan di AS tingkat inflasi berpotensi naik pada tahun ini.

"Jadi sebelumnya diprediksi yang naik tiga kali di 2018 disusul akan ada kenaikan di 2019 sebanyak tiga kali. Namun karena ada risiko di 2018 menjadi empat kali dan 2019 dua kali. Jadi itu yang ada di kajian BI," ujarnya.

Selain itu, BI juga meyakini akan adanya depresiasi dan keberlanjutan depresiasi rupiah di masa yang akan datang. Depresiasi ini dinilai akan berdampak terhadap inflasi. "Oleh karena itu kita merespons dengan bauran kebijakan ini. Kita percaya ini bisa menjaga stabilitas perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global," ucapnya.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR