Survei: Loyalitas Pekerja Milenial Tidak Bisa Dibeli dengan Uang

Rahmat Fiansyah ยท Jumat, 18 Mei 2018 - 10:45 WIB
Survei: Loyalitas Pekerja Milenial Tidak Bisa Dibeli dengan Uang

ilustrasi. (Foto: Tech.co)

NEW YORK, iNews.id – Generasi Y atau yang dikenal dengan generasi milenial selama ini dikenal sebagai generasi yang tidak loyal saat bekerja di sebuah perusahaan. Berbeda dengan generasi sebelumnya, perusahaan membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk membuat mereka loyal.

Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan Deloitte, perusahaan konsultan berskala global, uang bukan satu-satunya faktor yang menjadi motivasi pekerja milenial. Mereka juga perhatian pada keragaman, suasana yang inklusif, dan fleksibilitas waktu kerja. Bahkan, faktor-faktor ini lebih dipertimbangkan daripada uang.

Dilansir Quartz at Work, Jumat (18/5/2018), Deloitte menyurvei 10.455 milenial yang didefinisikan sebagai pekerja yang lahir antara Januari 1983 hingga Desember 1994. Survei itu dilakukan di 36 negara dan menyasar mereka yang berpendidikan tinggi, bekerja penuh waktu, dan saat ini bekerja di perusahaan swasta besar.

Survei yang dilakukan pada 2017 ini mengukur faktor-faktor apa saja yang membuat pekerja milenial mempertimbangkan untuk berkomitmen dengan perusahaan dalam jangka panjang. Hasilnya 43 persen dari mereka tidak akan bertahan lebih dari 2 tahun sementara 28 persen yang ingin bertahan lebih dari 5 tahun.

Angka tersebut kembali melebar setelah pada 2016, gap antara kedua kelompok ini menyusut. Pada tahun 2016, gapnya turun menjadi 7 poin sementara pada tahun lalu kembali melebar menjadi 15 poin.

Global Talent Leader Deloitte, Michele Parmelee mengatakan, sedikitnya para milenial untuk bertahan dalam sebuah perusahaan lebih dari lima tahun karena buruknya komitmen perusahaan dalam menerapkan kultur yang menekan keragaman, inklusivitas, dan jam kerja yang fleksibel. Meski generasi ini memiliki keamanan finansial yang tidak bagus, kata Michele, gagasan bahwa uang bisa membeli komitmen dan loyalitas milenial merupakan hal yang keliru.

“Ketika kami menguji respons dari mereka yang berencana untuk keluar dalam dua tahun dan mereka yang bertahan lebih dari lima tahun, kami melihat penghasilan tetap menjadi hal yang penting bagi milenial tapi keragaman, inklusivitas, dan fleksibilitas menjadi kunci untuk mempertahankan mereka,” kata Michele. 

Selain milenial, survei ini juga memotret generasi Z yang lahir 1996 ke atas. Mereka jauh lebih tidak loyal dibandingkan generasi milenial karena 61 persen dari mereka sebisa mungkin akan keluar dalam kurun waktu dua tahun dalam perusahaan. Menurut Michele, kunci mempertahankan generasi milenial dan Z yaitu memberikan penghasilan yang bagus dan memperbaiki kultur perusahaan.

"Mereka yang tidak puas dengan perusahaan dengan model konvensional karena faktor penghasilan dan fleksibilitas kerja semakin tertarik untuk bekerja secara independen (gig economy), terutama di negara-negara berkembang," ujar Michelle.


Editor : Rahmat Fiansyah