Utang Tembus Rp4.180 T, Indef: Masih Aman, Namun Trennya Memburuk

Ade Miranti Karunia Sari ยท Jumat, 18 Mei 2018 - 13:17 WIB
Utang Tembus Rp4.180 T, Indef: Masih Aman, Namun Trennya Memburuk

ilustrasi. (Foto: Ant)

JAKARTA, iNews.id – Posisi utang pemerintah hingga 30 April 2018 menyentuh Rp4.180 triliun, tumbuh 6,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp3.667 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan utang pemerintah sangat kecil. Dia juga menyebut, utang tersebut masih aman karena rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) masih 29,88 persen, jauh di bawah batas yang diizinkan 60 persen. Hal itu dengan asumsi PDB per 30 April sebesar Rp13.991,93 triliun.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adinegara menyebut, utang pemerintah masih aman meski harus hati-hati. Dia juga menyebut, tren utang juga memburuk.

“Utang masih aman, tapi trennya memburuk,” kata Bhima, Jumat (18/5/2018).

Utang publik, kata dia, khususnya utang pemerintah dalam bentuk valuta asing (valas), melambat. Hal ini karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) menanjak seiring ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral, The Fed.

“Investor akhirnya berpikir rasional untuk mengurangi pembelian SBN (Surat Berharga Negara) dengan alasan kupon SBN kurang menarik. Ini tercermin dari penjualan SBN beberapa seri terakhir yang kurang laris,” ujarnya.

Situasi ini, lanjut Bhima, membuat kebutuhan pembiayaan tahun ini terancam tidak mencapai target, sehingga pemerintah harus memutar strategi untuk menutupi pembiayaan antara lain lewat SiLPA (sisa lebih perhitungan anggaran) dari serapan belanja yang ditahan. “Tentunya ini akan berpengaruh juga ke defisit anggaran,” katanya.

BACA JUGA:

Soal Utang Pemerintah, Sri Mulyani: Jangan Lihat Nominalnya

Surat Utang RI Sepi Peminat, Ini Strategi Menkeu

Selain utang pemerintah, Bhima mengatakan, tren utang swasta juga memburuk karena mulai mengalami pertumbuhan negatif pada Maret 2018 sebesar 0,45 persen. Kondisi ini bisa ditafsirkan swasta tengah mengerem ekspansi.

“Faktor utamanya karena ada kekhawatiran pelemahan nilai tukar rupiah mengakibatkan risiko gagal bayar naik. Sementara kondisi sektor riil masih dalam tahap pemulihan yang lambat dibuktikan dari pertumbuhan PDB hanya 5,06 persen dan konsumsi rumah tangga 4,95 persen, di bawah ekspektasi,” ujarnya.

Meski dilihat dari rasio terhadap PDB masih aman, Bhima mengatakan, pemerintah harus hati-hati karena rasio pembayaran utang (debt service ratio/DSR) tier 1 naik menjadi 25,67 persen. Padahal, batas indikator DSR yang aman menurut Dana Moneter Internasional (IMF) yaitu 25 persen.

“Di level ASEAN sendiri, DSR indonesia tergolong cukup tinggi yang mengindikasikan pemanfaatan ULN belum signifikan mendorong kinerja ekspor,” tuturnya.


Editor : Rahmat Fiansyah