Rupiah Tembus Rp14.100 per Dolar AS, Ini Tanggapan Sri Mulyani

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 18 Mei 2018 - 15:02 WIB
Rupiah Tembus Rp14.100 per Dolar AS, Ini Tanggapan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah melemah ke Rp14.148 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot hingga sesi siang hari ini. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda turun hingga 90 poin atau 0,64 persen dibandingkan posisi pada penutupan kemarin di Rp14.058 per dolar AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai komparasi antara rupiah dengan AS masih sesuai. Sebab, ia melihat depresiasi masih di bawah level tiga persen sehingga masih bisa diterima dengan inflasi yang masih terjaga.

"Kalau inflasi kita tetap terjaga pada kisaran 3,5 persen plus minus 1, sementara di Amerika sekitar 2 persen, maka depresiasi pada level 3 persen masih bisa diterima," ucapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, (18/5/2018).

Bank Indonesia mencatat depresiasi rupiah secara point to point sebesar 1,47 persen sepanjang triwulan pertama 2018 sedangkan selama April 2018 sebesar 1,06 persen. Dengan demikian, menurut dia, hal ini membuat posisi perekonomian Indonesia dan rupiah dapat berkompetisi dengan negara lainnya, sehingga masyarakat dan dunia usaha bisa tetap beraktivitas dan melakukan adjusment.

"Namun, tidak terjadi apa yang disebut disrupsi atau dalam hal ini suatu gejolak," ucapnya.

Untuk itu, pemerintah dan BI terus mencermati perkembangan yang terjadi dengan dolar AS, terutama yang akan terus mengalami pergerakan dalam konteks normalisasi kebijakan di AS. Hal ini dilakukan dalam menjaga pondasi perekonomian dari sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Pemerintah Indonesia dalam hal ini akan terus-menerus menjaga pondasi ekonomi Indonesia, baik dari sisi APBN, hasil dan kinerja sampai Mei menunjukkan APBN yang baik dari sisi pendapatan, perpajakan dan PNBP yang meningkat sangat signifikan dan belanja negara yang tetap terjaga dan defisit yang terus kami jaga sesuai UU APBN," kata dia.

Di sisi lain, BI juga memiliki bauran kebijakan yang akan disiapkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia. Oleh karenanya, keduanya akan sama-sama menjaga perekonomian Indonesia karena ketidakpastian yang berasal dari kebijakan AS.

"Baik policy ekonomi maupun policy di bidang geopolitik, pasti akan memengaruhi mulai dari harga minyak, suku bunga global, maupun mata uang. Maka, dengan pondasi yang makin kuat, kami akan tetap jaga supaya ekonomi dan pembangunan tidak terganggu," tuturnya.


Editor : Ranto Rajagukguk