Pelemahan Rupiah Diprediksi Mereda di Semester II-2018

Ade Miranti Karunia Sari · Jumat, 18 Mei 2018 - 18:08 WIB

Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

JAKARTA, iNews.id – Tekanan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah diperkirakan mereda pada semester II-2018. Sentimen positif itu diperoleh dari permintaan dolar AS di pasar domestik seiring dengan jadwal pembayaran dividen dari perusahaan-perusahaan multinasional.

"Tekanan pada rupiah pada semester II tahun ini cenderung lebih reda karena faktor schedule pembayaran dividen hilang serta sentimen pasar akan lebih terukur setelah rapat FOMC (Federal Open Market Committee) bulan Juni," ujarnya Ekonom Permata Bank Josua Pardede saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (18/5/2018).

Pelemahan rupiah pasca kenaikan suku bunga acuan BI 7-Days Repo Rate (7DRR) sebesar 25 basis points (bsp) dinilai juga masih didorong oleh faktor eksternal, yakni kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS yang memicu permintaan dolar AS di pasar global. Meski dapat berdampak positif pada penurunan volatilitas rupiah, kenaikan suku bunga acuan BI diperkirakan berpegaruh negatif pada sektor riil dan pasar keuangan.

Perubahan suku bunga acuan BI akan direspons oleh suku bunga Pasar Uang Antara Bank (PUAB) yang selanjutnya akan berpengaruh pada kenaikan suku bunga kredit. "Kenaikan suku bunga kredit berpotensi akan mendorong kenaikan cost of borrowing korporasi atau sektor riil yang akan menahan upaya untuk memperkuat momentum pertumbuhan," kata dia.

Sementara Gubernur BI Agus Martowardojo menuturkan, perekonomian AS yang semakin membaik memberikan pengaruh negatif terhadap pasar keuangan global. Contohnya pergerakan kurs rupiah yang terkerek hingga ke level Rp14.133 per dolar AS.

"Jadi, kondisi ini dibarengi juga beberapa statement para pejabat di Federal Reserve yang cukup hawkish itu membuat yang namanya yield US treasury meningkat tajam, itu ada di kisaran 3,12. Kita sebelumnya tahu, waktu di April 2018, itu masih di bawah 3 persen dan tahu-tahu naik ke atas 3 persen. Itu sudah membuat kaget pasar," ucapnya.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR