Asosiasi Pedagang Pasar: Harga Bahan Pokok Selalu Naik saat Puasa

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Selasa, 22 Mei 2018 - 23:01 WIB
Asosiasi Pedagang Pasar: Harga Bahan Pokok Selalu Naik saat Puasa

ilustrasi. (Foto: Ant)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyatakan, kenaikan harga pangan selama bulan Ramadan dan Lebaran sulit dihindari. Pada tahun ini, harga pangan diprediksi naik antara 12-14 persen.

Sekertaris Jenderal APPSI Maulana mengatakan, kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan Ramadan dan Lebaran tahun lalu yang kenaikannya mencapai 20 persen. Menurut dia, kenaikan tahun ini lebih rendah karena pasokan yang stabil dan daya beli masyarakat yang masih lemah.

“Ini yang masih jadi isu kenaikan harganya tidak setinggi tahun lalu, memang mungkin karena daya beli masyarakat tahun ini juga sedikit menurun. Ini yang masih kita mesti coba perhatikan," ujarnya di Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Maulana mengatakan, hampir setiap tahun, kenaikan harga pangan terus terjadi pada awal Ramadan meski stok aman. Kenaikan akan kembali terjadi mendekati Hari Raya Idul Fitri. Pola itu, kata dia, terus terjadi.

"Pasti lah bakal naik. Bisa 20-an persen kali ya sama kaya tahun kemarin. Cuma tahun kemarin itu naik 20 persen-nya dari minggu kedua gitu," kata dia.

Berdasarkan pantauan APPSI, hampir semua komoditas pangan mengalami kenaikan harga, terutama komoditas telur ayam, daging ayam, gula, dan beras. Sementara kenaikan harga tertinggi terjadi pada komoditas telur dan daging ayam.

Ia menuturkan, stok ayam sempat sedikit berkurang di pasaran meski tidak mendongkrak harga secara signifikan. Namun kini suplai ayam masih terbilang aman di pasar tradisional. Selain itu, dia mengaku ada beberapa komoditas yang tiba-tiba menghilang dari pasaran meski sebelumnya stoknya masih memadai.

"Kemarin sih seperti cabai merah besar sempat rada menghilang 1-2 hari. Tidak tahu deh itu permainan siapa, tiap tahun kan sama saja saya bingung juga," tuturnya.

Ia membantah jika naiknya harga komoditas yang berulang setiap tahunnya ini akibat ulah dari permainan pedagang pasar. Sebab, pedagang pasar mematok harga berdasarkan harga yang dikenakan distributor.

"Selalu memang kalau momen seperti ini yang jadi sasaran tembak itu pedagang pasar. Pedagang ritel sih tidak, dia kan butuh uang harian. Harga tinggi ya dari distributor, ngambil yang mahal masa kita mau rugi jualan," ucapnya.

Maulana meminta pemerintah meninjau kembali rantai distribusi komoditas pangan ini. Dia mengapresiasi keinginan pemerintah menjaga harga bahan pokok tetap stabil namun pelaksanaan di lapangan kurang optimal.

"Pedagang pasar mah boro-boro mau main, kita mah cari recehan harian. Itu rantai distribusinya yang mesti dilihat. Kita saja ambil 12.500 masa kita mau jual 12.500 rugi dong," ujarnya.


Editor : Rahmat Fiansyah