Menhub Ancam Cabut Rute Maskapai yang Melebihi Tarif Batas Atas

Rahmat Fiansyah · Senin, 11 Juni 2018 - 11:13 WIB
Menhub Ancam Cabut Rute Maskapai yang Melebihi Tarif Batas Atas

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id – Kementerian Perhubungan akan menindak tegas maskapai yang menjual tiket melebihi tarif batas atas yang telah ditentukan. Tindakan yang diambil akan berupa peringatan hingga penutupan rute.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut, berdasarkan informasi awal yang diperoleh, tidak ada maskapai yang menaikkan harga tiket cukup tinggi secara langsung. Yang terjadi, kata dia, pihak vendor paket wisata yang menjual tiket dengan menambah biaya lain.

“Oleh karenanya kita akan klarifikasi uang itu diambil oleh maskapai atau tidak. Kalau diambil oleh maskapai kita akan menutup rute mereka,” ujar Menhub melalui keterangan tertulis, Senin (11/6/2018).

Pernyataan Menhub merujuk adanya pemberitaan sejumlah maskapai yang menawarkan harga tiket sangat mahal. Salah satunya rute Tarakan (Kalimantan Utara) menuju Makassar (Sulawesi Selatan) yang dikabarkan mencapai Rp2 juta. Menhub mengakui harga tersebut benar adanya, bukan hoaks.

“Yang di Tarakan memang terjadi tapi itu terjadi karena ada travel biro yang melakukan penambahan harga di situ,” ucap Menhub.

Mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II itu meminta meminta penumpang untuk teliti sebelum membeli tiket penerbangan untuk periode Lebaran tahun ini, baik di agen travel maupun secara online. Beberapa hal yang perlu diteliti di antaranya adalah biaya yang dibebankan dan jenis penerbangan apakah langsung atau transit.

”Karena semua biaya dalam tiket sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 14 tahun 2016 tentang Mekanisme formulasi perhitungan dan penetapan tarif batas atas dan batas bawah penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri,” kata dia.

Kendati demikian, ujar dia, Permenhub ini tidak mengatur harga tiket akhir di tingkat konsumen karena belum memasukkan komponen pajak dan asuransi. Selain itu, tarif tersebut juga tergantung layanan di maskapai.

Untuk maskapai full service seperti Garuda dan Batik Air, boleh menjual tarif itu sebesar 100 persen. Untuk medium service seperti Sriwijaya dan NAM air boleh menjual maksimal 90 persen dan LCC seperti Lion, Citilink dan Indonesia AirAsia boleh maksimal 85 persen.

Menhub melanjutkan, saat ini sejumlah maskapai telah meminta revisi kebijakan tarif batas atas dan batas bawah karena kenaikan harga avtur. Terkait hal ini, pemerintah tengah mengkajinya karena avtur bisa mencapai sampai 30-40 persen dari pengeluaran maskapai.

“Jadi kalau avtur naik 20 persen, maka 20 dikali 30 persen menjadi 60 persen kenaikannya. Jadi kalau naik 30 persen, maka lebih tinggi lagi. Dalam minggu-minggu ini setelah lebaran kita akan menentukan batasan tarif tersebut,” ujar Menhub.


Editor : Rahmat Fiansyah