Produk Laku Keras, Xiaomi Masih Rugi Rp15 Triliun

Rahmat Fiansyah · Senin, 11 Juni 2018 - 15:05 WIB

ilustrasi. (Foto: CNN)

BEIJING, iNews.id – Xiaomi, perusahaan pembuat ponsel pintar asal China masih mencatat kerugian pada tiga bulan pertama 2018 meski produknya laku keras.

Dikutip dari Financial Times, Senin (11/6/2018), Xiaomi membukukan kerugian sebesar 7 miliar Yuan atau sekitar Rp15,2 triliun pada kuartal I-2018. Sepanjang tahun lalu, perusahaan yang hendak IPO ini mencatat kerugian 43,9 miliar Yuan.

Xiaomi mencatat pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan pada kuartal I-2018 hingga 88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, pendapatan perusahaan juga ikut terkerek naik menjadi 34,4 miliar Yuan. Sepanjang tahun lalu, Xiaomi membukukan pendapatan 114,6 miliar Yuan.

BACA JUGA:

IPO di Hong Kong, Xiaomi Incar Dana Rp135 Triliun 

Perusahaan tak merilis penjualan ponsel pintarnya, namun lembaga riset Counterpoint memperkirakan pengiriman ponsel Xiaomi naik dua kali lipat dari 13,4 juta unit pada kuartal I-2017 menjadi 28,1 juta unit pada periode yang sama tahun ini. Hal ini membuat pangsa pasarnya juga meningkat dari 4 persen menjadi 8 persen.

Xiaomi yang baru berusia 8 tahun ini terus mengembangkan lini bisnisnya lebih dari sekedar ponsel pintar yaitu musik, hiburan, dan pembayaran. Namun, laporan keuangan perusahaan tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan Xiaomi pada penjualan ponsel pintar masih cukup tinggi sekitar 75 persen.

Dikenal sebagai produsen yang menjual produk dengan harga yang sangat miring, ponsel pintar Xiaomi menarik perhatian konsumen di berbagai negara seperti Indonesia dan India. Namun, perusahaan kesulitan mencetak laba lantaran margin keuntungan yang didapat sangat tipis sekitar 5 persen dari harga jual.

Xiaomi yang baru saja mengajukan IPO di bursa Hong Kong ini menargetkan dana IPO hingga 10 miliar dolar AS atau Rp14 triliun, dari total valuasi perusahaan yang mencapai 100 miliar dolar AS. Xiaomi dikenal sebagai perusahaan startup yang menjadi unicorn paling bernilai di dunia.


Editor : Rahmat Fiansyah

KOMENTAR