Bursa Asia Melemah Mengekor Wall Street yang Turun

Rahmat Fiansyah · Kamis, 14 Juni 2018 - 11:22 WIB
Bursa Asia Melemah Mengekor Wall Street yang Turun

ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

TOKYO, iNews.id – Sebagian besar pasar saham Asia turun pada awal perdagangan Kamis (14/6/2018) setelah bank sentral AS, The Fed memberikan sinyal menaikkan suku bunga dua kali lagi tahun ini.

Dilansir AFP, The Fed menaikkan suku bunga dalam rapat Juni 2018 sebesar 25 basis poin seperti yang diperkirakan pasar. Namun, bank sentral memberikan sinyal kenaikan empat kali tahun ini dan empat kali lagi tahun depan seiring ekonomi dan inflasi Negeri Paman Sam yang terus naik.

“The Fed saat ini memberikan sinyal kenaikan suku bunga dua kali dan menjatuhkan harapan pasar soal suku bunga rendah untuk jangka panjang. Pergeseran ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi domestik yang kuat yang ditopang stimulus fiskal,” kata James McCann, Ekonom Aberdeen Standard Investments.

BACA JUGA:

Wall Street Melemah Usai The Fed Beri Sinyal Naikkan Suku Bunga 4 Kali

The Fed Naikkan Suku Bunga Jadi 2 Persen, Kemungkinan 4 Kali Tahun Ini

Pernyataan The Fed yang lebih hawkish membuat Wall Street ditutup melemah. Hal ini juga berimbas pada bursa saham Asia yang turun saat pembukaan. hingga pukul 09:30 WIB, indeks Nikkei 225 Tokyo melemah 0,4 persen di sesi pertama perdagangan,

Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,2 persen dipicu oleh saham perbankan. Indeks Kospi Seoul anjlok 1,2 persen dan Strait Times Singapura juga melemah 0,2 persen. Begitu juga dengan Indeks Shanghai yang turun 0,2 persen dan Sydney yang melemah 0,1 persen.

Perhatian pelaku pasar saat ini beralih pada pertemuan bank sentral Eropa (European Central Bank atau ECB) hari ini yang diperkirakan akan mendiskusikan arah stimulus moneter paskakrisis.

Tak hanya kebijakan moneter, sentimen negatif juga datang dari rencana AS mengaktifkan tarif impor bagi barang asal China. Hal ini membuat pasar khawatir terjadinya perang dagang antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

“Perdagangan saat ini jauh lebih sulit diprediksi ke depan, dan sejauh ini pasar masih mencoba untuk mengabaikan karena mereka masih percaya hal itu tidak akan terjadi,” kata Michael Every, Kepala Riset Pasar Keuangan Rabobank Group.

“Ketika itu akhirnya benar-benar terjadi pasar mungkin akan bangun dan menyadari, wow ini benar-benar terjadi.”


Editor : Rahmat Fiansyah