Besok Lebaran, Pedagang Beduk Tanah Abang Raup Untung

Ade Miranti Karunia Sari · Kamis, 14 Juni 2018 - 16:10 WIB
Besok Lebaran, Pedagang Beduk Tanah Abang Raup Untung

Fikri, salah satu pedagang beduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Dia mengaku barang dagangannya lumayan laris karena lebih dari separuh sudah terjual. (Foto: iNews.id)

JAKARTA, iNews.id – Tradisi menabuh beduk setiap malam takbiran yang masih bertahan hingga saat ini menjadi berkah bagi para pedagang beduk.

Kali ini, iNews.id menyambangi penjual beduk di sepanjang kawasan Tanah Abang. Seperti beduk pada umumnya, beduk tersebut dibuat dari drum dan kulit kambing untuk menutup lubang drum.

Di kawasan itu, sejumlah pedagang beduk musiman muncul meski harus bersaing dengan suara takbir yang berasal dari kaset. Para pedagang beduk ini pada hari biasa menjual kambing sehingga kulitnya dipakai untuk membuat beduk.

Fikri mengaku dagangannya tetap laris manis. Dia menyebut, bedug berukuran kecil paling diminati, terutama kalangan anak-anak. 

"Kalau bedug-bedug kecil itu biasanya orang tua sekalian ke pasar beli baju terus beliin anaknya bedug, beli baju Lebaran, pulang nenteng bedug. Yang ramai itu bedug kecil buat anak-anak, makanya saya bikin yang kecil," katanya saat ditemui di lokasi, Kamis (14/6/2018).

Dia mengatakan, dari lebih dari 130 bedug yang dibuat, sisanya yang belum terjual hanya 60. Fikri memberikan warna-warna cerah supaya menarik anak-anak

Soal harga, pria berusia 55 tahun ini menjualnya dengan harga variatif tergantung ukuran. Ukuran besar dijual Rp600 ribu, sedang Rp250 ribu, dan kecil Rp100-150 ribu. 

"Saya bikin 160. Tinggal 60an. Saya jual sudah dari tanggal 1 Juni. Kalau yang gede itu paling saya bikin 30 biji, yang kecil saya bikin 100 lebih," ujarnya. 

Dari penjualan beduk, dia bisa mengantongi Rp5 juta. Dengan omzet yang dia kantongi, Fikri sendiri harus memutar modalnya untuk pembelian bahan-bahan beduk. Untuk membeli drum berukuran besar dia harus merogoh kocek sebesar Rp100 ribu, sedangkan berukuran kecil Rp40 ribu. 

Pedagang lainnya, Fauzi justru menyebut, penjualan beduk miliknya tahun ini agak sedikit menurun.

"Agak sepi. Kurang tahu, pokoknya sepi. Tahun lalu H-5 ramai. Kalau sekarang enggak seramai tahun lalu," katanya dia.

Tahun lalu, bedug yang dia buat bisa terjual hingga 95 persen. Namun, tahun ini, dari lebih dari 200 bedug yang dibuat, baru terjual sekitar 100 buah.

"Saya nyetok 200an dari dua minggu lalu. Ada sekitar 100 yang sudah kejual," katanya. 

Soal omset, Fauzi mengaku mengantongi puluhan juta. Dia menyebut, modal pembuatan beduk secara keseluruhan bisa menghabiskan Rp80 juta. 

"Tahun lalu untungnya bisa sampai Rp15 juta. Modalnya sampai Rp80 juta. Saya bikin satu drum besar ini saja modalnya Rp450 ribu. Saya jual Rp600 ribu. Kebanyakan dari kaleng karena lebih murah. Kalau kayu kan Rp5 juta," ucapnya. 

Apabila bedug-bedug tersebut tidak laku, para pedagang ini akan membawa pulang dagangannya.

"Enggak ada kesulitan gimana-gimana. Paling enggak habis, kita bawa pulang. Ganti kulitnya saja," ujarnya.


Editor : Rahmat Fiansyah