The Fed Naikkan Suku Bunga, Menko Darmin: Biarkan BI Kalkulasi

Isna Rifka Sri Rahayu · Sabtu, 16 Juni 2018 - 12:17 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin sekaligus memberikan sinyal kenaikan dua kali lagi tahun ini. Keputusan ini membuat Fed Fund Rate (FFR) naik dari 1,75 persen menjadi 2 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku akan melihat bagaimana kebijakan yang diambil Bank Indonesia (BI) untuk mengatasi hal itu. Apalagi, ia menilai Gubernur BI yang baru ini lebih responsif terhadap segala situasi yang terjadi.

"Tapi biarkan mereka (BI) mengalkulasinya dulu, saya tidak perlu komentar dulu. Nanti seminggu dua minggu ini ya (efeknya)," kata Darmin di rumah dinasnya, Jakarta, Sabtu (16/6/2018).

Sebelumnya, naiknya suku bunga acuan ini akan memengaruhi utang konsumer, terutama kartu kredit, kredit perumahan rakyat (mortgage), dan sejumlah instrumen lainnya.

Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), bank sentral mengeluarkan pernyataan hanya 320 kata. The Fed mengubah sejumlah frasa yang sebelumnya positif menjadi optimist terhadap pertumbuhan ekonomi dan ekspektasi inflasi.

The Fed menyebut pertumbuhan ekonomi AS meningkat dalam tingkat yang solid dari sebelumnya moderat. Selain itu, level pengangguran juga disebut turun dari sebelumnya tetap rendah, dan belanja masyarakat sudah naik dari sebelumnya moderat.

"Komite memperkirakan adanya peningkatan lebih lanjut secara gradual dalam rentang target untuk FFR yang akan konsisten sejalan dengan aktivitas pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat, dan inflasi yang mendekati target Komite 2 persen secara simetris dalam jangka menengah," ujar Ketua The Fed, Jerome Powell di Washington, Rabu (13/6/2018) waktu setempat.

Kalimat itu dimaknai The Fed lebih hawkish dari sebelumnya. Dalam pernyataan bulan lalu, The Fed memilih frasa kenaikan suku bunga sebagai penyesuaian gradual ketimbang peningkatan. Selain itu, bank sentral juga menambah frasa baru pemulihan berkelanjutan. Sementara pernyataan The Fed memiliki target inflasi simetris 2 persen mengindikasikan kecenderungan akan membiarkan inflasi sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan.

Dengan kenaikan FFR 0,25 persen yang sudah diantisipasi, para pelaku pasar terus mewaspadai seberapa agresif FOMC akan menetapkan kebijakan moneternya di sisa tahun ini. Saat ini, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun ini semakin kuat. Sebelumnya, The Fed sudah menaikkan suku bunga pada Maret 2018.

Sementara itu, BI terus mencermati rencana kenaikan suku bunga acuan itu adalah perkembangan terbaru yang patut diwaspadai otoritas moneter Indonesia.

"Kami cermati perkembangan-perkembangan lain dari The Fed bahwa sekarang probabilitas tahun ini empat kali naik lebih besar. Sebelumnya, probabilitas tiga kali. Itu suatu perkembangan baru. ECB (Eropa Central Bank) juga sudah mulai merencanakan untuk mengurangi quantitative easingmulai September, termasuk yang kami cermati," ujarnya Gubernur BI Perry Warjiyo di rumah dinasnya, Jakarta, Jumat (15/6/2018).

Dia tidak memungkiri, BI tetap memberikan ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Apalagi kondisi nilai tukar rupiah belum bisa dikatakan stabil menyusul perkasanya dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mayoritas mata uang.

Dalam mempertimbangkan kebijakan moneter ke depan, BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan berlangsung pada 27-28 Juni 2018. "Komitmen kami tetap menjaga stabilitas nilai rupiah, itu prioritas kami. Konkretnya saat RDG nanti," ucap Perry.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR