Pemerintah Resmi Kuasai 51 Persen Saham Freeport Indonesia

Ade Miranti Karunia Sari · Kamis, 12 Juli 2018 - 17:55 WIB

Holding Industri Pertambangan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum meneken pokok-pokok perjanjian (Head of Agreement/HoA) dengan Freeport McMoran Inc (FCX), PT Freeport Indonesia dan Rio Tinto. (Foto: iNews.id/Ade Miranti)

JAKARTA, iNews.id - Holding Industri Pertambangan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum meneken pokok-pokok perjanjian (Head of Agreement/HoA) dengan Freeport McMoran Inc (FCX), PT Freeport Indonesia dan Rio Tinto. HoA ini menjadi landasan atau payung hukum untuk menguasai 51 persen saham Freeport Indonesia.

Dalam perjanjian tersebut, Inalum akan mengeluarkan dana sebesar 3,85 miliar dolar AS untuk membeli hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia. Para pihak akan menyelesaikan perjanjian jual-beli ini sebelum akhir tahun 2018.

“Dengan ditandatanganinya Pokok-Pokok Perjanjian ini, kerjasama FCX dan Inalum diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan nilai tambah industri ekstraktif ke depan serta memberi nilai kemakmuran bagi masyarakat indonesia," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai penandatanganan tersebut di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Pokok-pokok perjanjian ini selaras dengan kesepakatan pada tanggal 12 Januari 2018 antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Saat itu pemerintah daerah akan mendapatkan saham sebesar 10 persen di Freeport Indonesia.

“Pemerintah berkomitmen untuk menjaga iklim investasi yang kondusif untuk memberikan kepastian kepada investor yang berinvestasi di Indonesia." ucap dia.

Sementara, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, perusahaan pelat merah memiliki kepedulian, komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. "Sejalan dengan fungsi BUMN sebagai agen pembangunan, BUMN akan menjadi ujung tombak proses hilirisasi industri pertambangan indonesia guna memberi nilai tambah maksimal bagi masyarakat, termasuk menjalankan usaha pertambangan secara profesional dan bertanggungjawab berlandaskan prinsip good corporate governance,” tutur Rini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan berpendapat, dengan ditandatanganinya perjanjian ini maka keseluruhan kesepakatan dengan FCX yang meliputi divestasi 51 persen saham, perubahan dari Kontrak Karya menjadi IUPK, dapat diselesaikan, termasuk komitmen pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian.

"Oleh sebab itu PT Feeeport Indonesia mendapatkan perpanjangan IUPK Operasi Produksi maksimal 2X10 tahun. Kami harapkan nilai tambah komoditi tembaga dapat terus ditingkatkan melalui pembangunan pabrik peleburan tembaga berkapasitas 2 sampai 2,6 juta ton per tahun dalam waktu 5tahun," kata Jonan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menambahkan, melalui penguasaan saham mayoritas Freeport Indonesia oleh Inalum, pemerintah mengharapkan kualitas terhadap pengelolaan lingkungan di area tambang terus ditingkatkan. "Kami meyakini bahwa PT Freeport Indonesia sebagai salah satu pengelola tambang terbesar di dunia akan mampu menjaga aspek keberlanjutan dari lingkungan terdampak area tambang," tuturnya.

Berdasarkan laporan keuangan 2017 yang telah diaudit, Freeport Indonesia membukukan pendapatan sebesar 4,44 miliar dolar AS, naik dari 3,29 miliar dolar AS di tahun 2016. Perusahaan Juga membukukan laba bersih sebesar 1,28 miliar dolar AS, naik dari 579 juta dolar AS.

Freeport Indonesia memiliki cadangan terbukti (proven) dan cadangan terkira (probable) untuk tembaga sebesar 38,8 miliar pound, emas sebesar 33,9 juta toz (troy ounce) dan perak sebesar 153.1 juta toz. Sementara itu, pada tahun 2017 Inalum membukukan pendapatan sebesar 3,5 miliar dolar AS dengan laba bersih konsolidasi mencapai 508 juta dolar AS.

Holding Industri Pertambangan Inalum juga tercatat memiliki sumber daya dan cadangan nikel sebesar 739 juta ton, bauksit 613 juta ton. timah 1,1 juta ton, batubara 11,5 miliar ton, mas 1,6 juta toz dan Perak sebesar 16,2 juta toz.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR