BKPM-Kemenperin Mendesain Insentif untuk Genjot Investasi

Isna Rifka Sri Rahayu · Kamis, 12 Juli 2018 - 18:52 WIB

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Tri Kasih Lembong. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkolaborasi mendesain insentif-insentif khusus untuk pelaku industri. Hal ini untuk menarik investor masuk ke Indonesia.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengatakan, kondisi global kini makin tak menentu, semua negara bersaing untuk menarik investor yang sama. Untuk itu, diperlukan insentif yang paling agresif karena negara-negara di dunia melakukan hal yang sama.

"Kami bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian mendesain beberapa insentif khusus untuk pabrik dan industri baik hulu atau hilir, industri dasar berat atau hilir yang ringan," ujarnya di kantornya, Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Apalagi, lanjutnya, 40 persen dari investasi nasional berada di sektor industri sehingga BKPM dan Kementerian terkait telah berunding untuk membuat insentif bagi investor. "Kita harus berjuang all out dengan insentif paling menarik perhatian investor," ucapnya.

Selain itu, ia juga meminta pemerintah untuk tidak mengeluarkan kebijakan yang membingungkan investor. Sebab, kondisi saat yang saat ini sedang sensitif dapat merusak kepercayaan investor.

"Dari segi insentif, alat utama di semua negara berkembang terutama Asia pasti tax holiday karena itu sangat simbolis dan sinyal terhadap keseriusan pemerintah ke investor dan investasi. Jangan hitam putih negara ini harus jernih dan jelas. Jangan ada abu-abunya," kata dia.

Kemudian, pemerintah diharapkan dapat memberikan kelancaran pada bea cukai ekspor dan impor. Di era pesatnya perkembangan industri e-commerce tentu pemerintah harus meyakini bahwa seluruh rantai produksi sudah mencakup internasional.

"Banyak UMKM ada yang mereka impor melalui e-commerce atau ekspor parcell ke luar negeri. Kelancaran bea cukai ekspor impor jadi pertimbangan investor," tuturnya.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR