Ekonom: Freeport Indonesia Belum Direbut Kembali

Ade Miranti Karunia Sari · Jumat, 13 Juli 2018 - 15:47 WIB

Ilustrasi. (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id – Pemerintah melalui PT Inalum (Persero) baru saja menyelesaikan pokok-pokok perjanjian (Head of Agreement/HoA) dengan PT Freeport Indonesia. HoA itu menandakan akuisisi saham Freeport Indonesia sebesar 51 persen telah sama-sama disepakati masing-masing pihak.

Meski HoA telah diteken, proses untuk memiliki saham di perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini masih butuh tahap lanjutan. Bahkan, tak ada jaminan proses pembelian ini bisa berjalan mulus sesuai dengan harapan pemerintah yang bisa rampung di akhir Juli nanti.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Wibowo menuturkan, kesepakatan HoA tak lantas membuat pemerintah sudah berkuasa penuh atas 51 persen saham Freeport Indonesia. Kesepakatan yang baru direalisasikan pemerintah saat ini masih berkutat pada harga saham.

“Apa yang sudah disepakati? Jawabnya, lebih pada soal harga. Tiga pihak, yaitu Indonesia (pemerintah dan Inalum), Freeport-McMoRan Inc (FCX) dan Rio Tinto sepakat pada harga 3,85 miliar dolar AS atau sekitar Rp55 triliun. Ini adalah harga bagi pelepasan hak partisipasi Rio Tinto, plus saham FCX di Freeport Indonesia,” kata Drajad dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/7/2018).

Dia mengatakan, kalaupun pemerintah menguasai 51 persen saham Freeport Indonesia, ini tak menjamin bisa berkuasa penuh dalam bisnis tambang yang berada di Provinsi Papua tersebut. Pasalnya, perusahaan asal AS ini juga meminta berbagai syarat yang membuatnya bisa mengontrol bisnis operasi dalam jangka panjang.

Karena itu, meski sudah ada kesepakatan harga, masih ada isu besar yang belum rampung ditindaklanjuti, seperti hak operasi hingga tahun 2041, kontrol FCX terhadap bisnis Freeport Indonesia tanpa menjadi pemegang saham mayoritas, dan kesepakatan tentang isu lingkungan hidup, termasuk tentang limbah tailing.

“Apakah Freeport sudah direbut kembali seperti klaim bombastis yang beredar? Belum! Transaksi ini masih jauh dari tuntas,” ujar dia.

Dia belum bisa memperkirakan apakah nilai valuasi saham 3,85 miliar dolar AS masuk dalam kategori mahal atau tidak. Namun, dia melihat Rio Tinto sebagai pemilik hak partisipasi 40 persen saham bersikukuh terhadap nilai 3,5 miliar dolar AS.

“Harganya mahal atau tidak? Saya belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi yang jelas, sejak lama Rio Tinto pasang harga di 3,5 miliar dolar AS. Tidak mau nego. Indonesia akhirnya menyerah, terima harga 3,5 miliar ditambah 350 juta dolar AS bagi FCX.

Dia mengalkulasi, nilai saham Freeport Indonesia yang akan dibeli Indonesia setara dengan 61 persen aset Inalum. Sementara, nilai aset perusahaan Inalum saat ini mencapai Rp90 trilun. Dia mengingatkan agar transaksi ini dilakukan dengan hati-hati dan memerhatikan kepentingan jangka panjang.

“Saya ingatkan, jangan sampai Inalum over-stretched, yang bisa menjadi masalah besar di kemudian hari. Jika transaksinya terwujud nanti, Indonesia harus membayar Rp55 triliun. Tapi, FCX ngotot kontrol operasional tetap mereka yang pegang,” ujarnya.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR