Menperin Usulkan Penurunan Pungutan Ekspor Minyak Goreng

Ade Miranti Karunia Sari · Jumat, 13 Juli 2018 - 18:52 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan pungutan ekspor produk minyak goreng diturunkan sehingga industri di bidang usaha ini bisa menggenjot kinerjanya. Alhasil, industri ini bisa berkontribusi terhadap penambahan ekspor dan menekan neraca perdagangan yang kini mengalami defisit.

"Tadi kami minta me-review untuk ekspor minyak goreng itu yang ditarik iuran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)-nya untuk diturunkan sehingga ekspor bisa meningkat," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat ditemui usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Namun, Airlangga belum bisa memastikan seberapa banyak penurunan pungutan untuk industri minyak goreng. "Nanti akan dibahas lagi detailnya," katanya.

Dia menambahkan, alasan diturunkannya dana pungutan ekspor minyak goreng karena komoditas ini merupakan produksi turunan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Itu artinya, minyak goreng telah melalui proses pengolahan dan salah satu produk hilir dari CPO.

"Jadi, kalau kita bicara yang dikenakan iuran BPDP kan proses pertama CPO dan proses hiilir itu ada minyak goreng ada produk turunan lain," kata dia.

Airlangga menyebut, ada sejumlah produk turunan CPO yang tidak terkena pungutan ekspor. Karena itu, dia berharap hal serupa bisa diimplementasikan pada produk minyak goreng karena bisa mendorong peningkatan ekspor.

"Kalau fatty alkohol dan yang lain enggak kena. Ya tentu minyak goreng yang juga termasuk produk hilir sewajarnya itu untuk diangkat agar ekspor meningkat," ujarnya.

Usulan penurunan pungutan ini merupakan usaha pemerintah untuk memperkuat ekspor yang selama ini dianggap belun terlalu tinggi. Selain menurunkan tarif ekspor minyak goreng, pemerintah juga memberikan dana insentif untuk pelaku industri kayu dan industri mebel yang tergolong Industri Kecil Menengah (IKM).

Nilai ekspor Indonesia pada Mei 2018 mencapai 16,12 miliar dolar AS. Kenaikannya 10,9 persen dibanding ekspor April 2018. Demikian juga dibanding Mei 2017 meningkat 12,47 persen.

Adapun sektor yang mendukung pertumbuhan ekspor Meni masih didominasi oleh non-migas sebesar 14,55 miliar dolar AS yang tumbuh 9,25 persen dibanding April 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Mei 2017, naik 11,58 persen.


Editor : Ranto Rajagukguk

KOMENTAR