6 Fakta Divestasi Saham Freeport, Nomor 5 Untungkan Indonesia

Ade Miranti Karunia Sari ยท Jumat, 13 Juli 2018 - 23:59 WIB
6 Fakta Divestasi Saham Freeport, Nomor 5 Untungkan Indonesia

Ilustrasi. (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) dan Freeport McMoran pada Kamis (12/7/2018) kemarin telah menandatangani pokok-pokok perjanjian atau Head of Agreement (HoA). Perjanjian itu menjadi payung hukum bagi pemerintah untuk segera menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

HoA yang telah diteken itu masih proses awal sampai pemerintah benar-benar bisa menguasai mayoritas saham perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini. Masih ada tahap lanjutan dan sejumlah isu besar yang perlu disepakati, seperti perpanjangan operasi, pembangunan smelter hingga isu lingkungan.

Dari rampungnya proses HoA itu, berikut lima fakta divestasi saham Freeport Indonesia yang berhasil iNews.id rangkum:

1. Pemerintah Kuasai Saham Mayoritas

Inalum, Freeport McMoRan Inc (FCX) dan Rio Tinto telah melakukan penandatangan Pokok-Pokok Perjanjian (Head of Agreement) terkait penjualan saham FCX dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Inalum. Kepemilikan Inalum di Freeport setelah penjualan saham dan hak tersebut menjadi sebesar 51 persen dari semula 9,36 persen. Pokok-pokok perjanjian ini selaras dengan kesepakatan pada tanggal 12 Januari 2018 antara pemerintah. Adapun pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kabupaten Mimika, mendapatkan 10 persen saham Freepot Indonesia.  

2. Pembelian Saham Libatkan 11 Perbankan

Dalam perjanjian tersebut, Inalum akan mengeluarkan dana sebesar 3,85 miliar dolar AS untuk membeli hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia dan FCX. Rencananya ada 11 perbankan yang terlibat untuk mendanai pembelian saham tersebut.

"Ada 11 bank yang siap membantu mendanai transaksi. Ke Rio-nya 3,5 bilion dolar AS, Freeport McMorannya 350 juta dolar AS," ujar Direktur Utama PT Inalum, Budi Gunadi Sadikin ditemui usai penandatanganan HoA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.

3. Transaksi Pembelian Saham Rampung Akhir Juli 2018

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mendesak Inalum mempercepat transaksi pembelian saham selesai pada 31 Juli 2018. Namun, Inalum menganalisis penguasaan saham tersebut baru bisa terealisasi akhir Agustus 2018.

"Ya sudahlah Pak Budi mau bilang apa. Saya memang dorongnya sampai akhir Juli tapi Pak Budi (Dirut Inalum) bilang sampai Agustus, biasa dong saya ngejar juga dong. Lebih cepat lebih baik saya inginnya akhir Juli supaya enggak diperpanjang," kata Rini.

4. Peroleh Perpanjangan Operasi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan, dengan ditandatanganinya perjanjian ini maka keseluruhan kesepakatan dengan FCX yang meliputi divestasi 51 persen saham, perubahan dari Kontrak Karya menjadi IUPK telah dapat diselesaikan, termasuk komitmen pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian.

Oleh sebab itu, Freeport Indonesia mendapatkan perpanjangan IUPK Operasi Produksi maksimal 2 x 10 tahun. "Kami harapkan nilai tambah komoditi tembaga dapat terus ditingkatkan melalui pembangunan pabrik peleburan tembaga berkapasitas 2 sampai 2,6 juta ton per tahun dalam waktu 5 tahun," ucapnya.

5. Kewajiban Lingkungan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya berpesan melalui penguasaan saham mayoritas Freeport Indonesia oleh Inalum, pemerintah mengharapkan kualitas pengelolaan Iingkungan di area tambang terus ditingkatkan.

"Kami meyakini bahwa PTFI sebagai salah satu pengelola tambang terbesar di dunia, akan mampu menjaga aspek keberlanjutan dari lingkungan terdampak area tambang," ujarnya.

6. Untung 2 Miliar Dolar AS per Tahun

Dirut PT Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan, jika seluruh saham Freeport Indonesia dikuasai, maka Indonesia bisa mendapatkan keuntungan hingga 2 miliar dolar AS tiap tahunnya. "Kita bisa dapat profit setengah dari rata-rata profit tahunan mereka yang 2 billion dolar AS per tahun," katanya.


Editor : Ranto Rajagukguk