Tekanan Eksternal, IHSG Turun 4,57 Persen hingga Agustus 2018

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 10 Agustus 2018 - 15:13 WIB
Tekanan Eksternal, IHSG Turun 4,57 Persen hingga Agustus 2018

Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

JAKARTA, iNews.id - Laju lndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 31 Desember 2017 hingga 9 Agustus 2018 mengalami penurunan sebesar 4,57 persen. Posisi IHSG di akhir 2017 di level 6.355 sedangkan pada penutupan kemarin berada di 6.065.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, penurunan tersebut dikarenakan pada tahun ini Indonesia tengah menghadapi normalisasi kebijakan Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada pasar modal. Keadaan ini belum dapat diprediksi kapan akan berakhir.

"Namun situasi masih dinamis dan juga masih ada trade war (perang dagang) mungkin geopolitk masih kita temukan. Kemudian teknologi berkembang pesat ini juga jadi tantangan kita," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Ia melanjutkan, mengingat potensi perekonomian lndonesia yang sangat besar, OJK meyakini IHSG akan menunjukkan tren positif ke depannya. Meskipun nilai kapitalisasi pasar saham mengalami penurunan 3,05 persen atau sebesar Rp6.837.30 triliun dari Rp7.052,39 pada 31 Desember 2017.

"Namun demikian tidak hanya faktor eksternal tapi internal juga kita berikan dorongan agar memudahkan akses ke pasar mdoal," kata dia.

Seperti diketahui, kinerja pasar modal lndonesia tahun ini sangat dipengaruhi oleh kondisi stabilitas perekonomian domestik serta pengaruh perekonomian global. Pengaruh domestik antara lain Bank Indonesia (BI) sampai dengan 9 Agustus 2018, telah menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak tiga kali dari 4,25 persen menjadi 5,25 persen.

Kemudian, Lembaga pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&l) meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia dari BBB- /Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil pada 7 Maret 2018.

Sementara pengaruh global antara lain The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin untuk kedua kalinya pada 2018 menjadi 2 persen. Dengan demikian, kmbal hasil (yield) suku bunga US Treasury 10 tahun naik 3,1 persen untuk pertama kalinya sejak tahun 2011, sementara untuk yield dua tahun berada pada level tertingginya setelah satu dekade pada level 2,58 persen.

Perang dagang antara AS dengan China juga turut memberikan stimulus pada pasar modal lndonesia. Belakangan adanya rencana balasan China yang akan mengenakan tarif tambahan impor sebesar 5 hingga 25 persen atas sejumlah barang impor AS senilai 60 miliar dolar AS.


Editor : Ranto Rajagukguk