Porsi Barang Impor dalam Proyek Infrastruktur Sangat Kecil

Rahmat Fiansyah ยท Minggu, 12 Agustus 2018 - 10:38 WIB
Porsi Barang Impor dalam Proyek Infrastruktur Sangat Kecil

ilustrasi. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan bendungan cukup tinggi. Porsi impor diperkirakan tidak lebih dari 5 persen.

“Untuk penggunaan bahan baku infrastruktur di Kementerian PUPR hampir 95 persen ke atas sudah lokal semua. Sebagai contoh untuk tiang pancang 100 persen pakai produk Wika Beton, untuk besinya kita pakai produk lokal, seperti Krakatau Steel," ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono melalui keterangan tertulis, Minggu (12/8/2018).

Dia menambahkan, fokus kerja Kementerian PUPR pada tahun depan diarahkan pada penyelesaian proyek infrastruktur, terutama proyek strategis nasional (PSN). “Seluruhnya terus dilanjutkan. Belum selesai dengan mangkrak berbeda maknanya,” kata dia.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018, sebagian besar PSN ditangani Kementerian PUPR. Pada tahun ini, kata Basuki, proyek yang selesai ditargetkan mencapai 27 dan tahun depan sebanyak 47 PSN.

Inspektur Jenderal Kementerian PUPR, Widiarto menyebut, hingga saat ini belum ada instruksi pemberhentian sementara proyek infrastruktur untuk dievaluasi.

“Karena memang proyek infrastruktur PUPR hampir semuanya menggunakan material lokal, mulai dari pasir, batu, semen dan aspal," kata Widiarto.

Dia mencontohkan pembangunan Jembatan Holtekamp di Papua yang mana penggunaan komponen dalam negerinya mencapai 95 persen. “Semua produksi rangka bajanya dari lokal. Kalaupun ada penggunaan bahan impor, seperti baja dengan spesifikasi khusus, itu pun sedikit sekali persentasenya," ucapnya.

Dalam kurun waktu 2016-2017, kata Widiarto, Kementerian PUPR membeli 58 unit ekskavator produksi PT. Pindad untuk mendukung penggunaan produk dalam negeri. Dalam pengadaan barang dan jasa, dia juga meminta komitmen calon kontraktor untuk menggunakan lebih banyak TKDN. “Penggunaan kandungan lokal masuk dalam poin penilaian,” ujarnya.


Editor : Rahmat Fiansyah