4 Negara Ini Dinilai Jadi Sasaran Perang Ekonomi AS

Rahmat Fiansyah ยท Minggu, 12 Agustus 2018 - 16:14 WIB
4 Negara Ini Dinilai Jadi Sasaran Perang Ekonomi AS

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (tengah) dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (kanan) di sela-sela makan malam bersama dalam pertemuan NATO di Brussel, Belgia, 10 Juli 2018. (Foto: AFP/Benoit Dopagne)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

WASHINGTON, iNews.id – Amerika Serikat (AS) dinilai melancarkan perang ekonomi terhadap lawan-lawan politiknya lewat pemberian sanksi.

Yang terbaru, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menuding AS di bawah kepemimpinan Donald Trump menabuh genderang perang terhadap negaranya lewat mata uang.

“Kita sama-sama tahu isunya bukan dolar, euro, atau emas, tapi itu peluru, meriam, dan misil untuk perang ekonomi melawan kami,” kata Erdogan dikutip dari AFP, Minggu (12/8/2018).

Selain Turki, ada sejumlah negara yang juga terkena sanksi dari AS sehingga nilai mata uangnya terhadap dolar AS melemah cukup signifikan. Berikut daftarnya seperti dirangkum dari berbagai sumber:

1. Turki

Menguatnya dolar AS memberikan tekanan terhadap lira. Terpilihnya Erdogan sebagai Presiden Turki sempat membuat lira bangkit hingga insiden ditangkapnya pastor asal AS memanaskan tensi hubungan kedua negara.

Pastor Andrew Branson dituding terlibat dalam gerakan kudeta terhadap Erdogan pada 2016 lalu. Trump langsung bereaksi dengan menggandakan tarif impor untuk baja dan aluminium khusus untuk Turki setelah masalah tersebut dinilai tak kunjung kelar meski Branson sudah dikenakan tahanan rumah. Akibatnya, lira anjlok hingga 18 persen pada akhir pekan lalu.

Erdogan membantah negaranya masuk jurang krisis karena fundamental ekonomi Turki masih kuat. Salah satunya pertumbuhan ekonomi negara itu yang mencapai 7,42 persen pada tahun lalu, tertinggi di dunia.

2. Iran

Kesepakatan nuklir yang dibuat antara Iran dan AS saat di bawah kepemimpinan Barrack Obama saat ini tidak jelas saat Trump menarik AS dari kesepakatan tersebut. AS menuduh Iran diam-diam masih memproduksi senjata nuklir sehingga sanksi ekonomi diberlakukan. Salah satunya melarang negara-negara dunia membeli minyak dari Iran.

Mata uang Iran, Rial pun jatuh akibat kebijakan AS tersebut. Sejumlah perusahaan asing memutuskan menghentikan bisnisnya di Iran dan keluar dari negara tersebut. Banyak masyarakat Iran yang khawatir negaranya krisis usai AS menarik diri dari kesepakatan yang dibuat pada 2015 itu.

Trump menyebut AS siap bernegosiasi dengan Iran. Namun, hal itu direspons dingin oleh Iran. Presiden Iran, Hassan Rouhani tak percaya dengan niat Trump karena membuka negosiasi sekaligus menerapkan sanksi.

3. Rusia

Sanksi ekonomi terhadap Rusia dilancarkan AS dan sekutunya saat Rusia menganeksasi Krimea pada 2014. Namun, AS di bawah kendali Presiden dari Partai Republik kembali berencana menerapkan sanksi baru kepada Rusia. Sanksi tersebut diberikan menyusul pemberian racun kepada mantan mata-mata Rusia di Inggris awal tahun ini.

Mata uang Rusia, Rubble langsung turun hampir 6 persen minggu ini. Rencana tersebut mendapat reaksi keras dari pejabat Rusia. Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev menyebut, sanksi tersebut ilegal. Kremlin siap mengambil aksi balas dendam dari sisi ekonomi, politik, dan lain-lain jika AS kembali menerapkan sanksi ke Rusia.

4. Venezuela

Negara Amerika Latin ini babak belur “dihajar” AS. Rendahnya harga minyak dunia beberapa tahun lalu yang menekan ekonomi Venezuela makin diperparah dengan kebijakan AS memberikan sanksi kepada negara tersebut. Yang terbaru, AS memblokade akses Venezuela menjual surat utang ke pasar internasional usai Nicolas Maduro terpilih kembali menjadi Presiden Venezuela.

Maduro yang berhaluan sosialis, masih percaya negaranya akan menang dalam perang ekonomi tersebut. Kini, Venezuela tengah terperangkap dalam krisis ekonomi. Harga-harga pangan melambung, inflasi mencapai ratusan persen, dan produksi minyaknya menyentuh level terendah dalam 30 tahun terakhir.


Editor : Rahmat Fiansyah