Kedelai Mahal, Ini Siasat Pedagang Pertahankan Harga Tahu dan Tempe

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 14 September 2018 - 12:47 WIB
Kedelai Mahal, Ini Siasat Pedagang Pertahankan Harga Tahu dan Tempe

Ilustrasi. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Harga kedelai yang makin mahal membuat para pedagang tempe dan tahu menyiasatinya dengan berbagai cara. Pasalnya, sejak nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi membuat kedelai sebagai barang impor turut terkena dampaknya.

Berdasarkan pantauan iNews.id di Pasar Kramat Jati Jakarta Timur, para pedagang menyiasati kenaikan bahan baku ini dengan cara mengecilkan ukuran tempe hingga mengurangi keuntungan. Hal ini tak lain agar permintaan akan komoditas pangan sehari-hari ini tidak berkurang.

Salah satu pedagang tempe, Siti menyebutkan, harga kedelai memang naik sehingga modal yang dikeluarkan juga bertambah. Jika sebelum rupiah melemah ia cukup mengeluarkan Rp630.000 untuk sekwintal (100 kilogram) kedelai, maka saat ini ia harus mengeluarkan kocek lebih.

"Naik harga kedelainya dari sebulan lalu. Harga (kedelai dari sananya) naik, kalau kita modalnya saja yang naik. Nambah modal jumlahnya tadinya Rp630.000 sekuintal tambah Rp60.000," ujarnya kepada iNews.id di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Padahal, tempe dan tahu yang ia jual dan produksi sendiri tetap berukuran sama. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan agar pembeli tidak berkurang karena harga tempe bersaing dengan pedagang lainnya.

"Ukuran tetap, di saya ya kalau yang lain tidak tahu ukurannya biasa mungkin. Jadi keuntungan saya saja yang berkurang. Misalnya biasa untung Rp50.000 sehari sekarang jadi Rp40.000. Soalnya kita juga mau naikin harga tapi pembeli kasihan," ucapnya.

Sementara itu, pedagang lai Duriah mengakui tidak dapat menaikkan harga tempe dan tahu meski bahan bakunya melambung tinggi. Pasalnya, kedua komoditas ini merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat dari berbagai kalangan.

"Harga tempe tidak bisa naikin kita, ini sudah ada 10 harianlah. Sekarang ini kiriman kedelai yang seminggu kemarin sudah Rp765.000 sekwintal. Naiknya pelan-pelan sih ya jadi tidak sekaligus naik misal Rp10.000 atau Rp15.000 bertahap," kata Duriah.

Oleh karenanya, ia berupaya mengecilkan ukuran tempe dan tahu yang diproduksi. Hal ini untuk menghadapi kenaikan harga kedalai yang per kwintalnya bisa mencapai Rp50.000 sementara keuntungan yang didapat tidak berkurang.

"Paling ukurannya dikecilin misal 1 kg jadi 9 ons sedangkan harga tetap ada yang Rp5.000, Rp4.000, Rp8.000. yang 6 ons jadi setegah kilo, yang Rp8.000 dapat 1 kg menjadi 9 ons," ucapnya.

Meski demikian, cara tersebut rupanya tetap menggerus keuntungan pedagang tempe akibat tidak bisa menaikkan harga. "Jadi keuntungan kita kurang karena tidak bisa jual dengan harga naik. Kalau yang beli sih seneng orang harganya tetap tidak naik. Cuma yang tidak enak ini kita pedagang karena kurang keuntungannya kita yang jualan," ucap dia.


Editor : Ranto Rajagukguk