Bebani Defisit Transaksi Berjalan, Pengusaha: Harga BBM Perlu Dilepas

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Sabtu, 15 September 2018 - 08:02 WIB
Bebani Defisit Transaksi Berjalan, Pengusaha: Harga BBM Perlu Dilepas

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, harga bahan bakar minyak (BBM) perlu dilepas karena impor minyak menjadi beban bagi defisit transaksi berjalan.

Namun, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P. Roeslani melihat harga BBM tidak akan dinaikkan dalam waktu dekat karena pemerintah telah berjanji tidak akan menaikkan harganya hingga 2019.

"Menurut saya, pada ujungnya subsidi BBM itu harus dilepas, ngerti dong kenapa tidak tahun ini? Menurut kami, ujungnya harus dilepas karena itu salah satu yang berkontribusi terbesar," ujarnya di Hotel Kempinski, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Selain itu, menurutnya, pemerintah tentu memiliki analisa mengapa harga BBM tak kunjung dinaikkan meski harga minyak mentah dunia saat ini cukup tinggi. Dampak kenaikan harga BBM pasti akan berpengaruh pada inflasi, terutama daya beli masyarakat

"Ini yang harus disikapi seperti apa, karena akan mempengaruhi daya beli, tapi menurut saya tetap harus dilepas," katanya.

Dari sisi dunia usaha, bos Recapital Group ini mengakui kenaikan harga BBM akan mendapatkan respons beragam dari pengusaha. Ada yang positif, ada pula yang negatif.

Namun, dia menilai, kenaikan harga BBM merupakan pilihan kebijakan yang perlu diambil pemerintah meski tidak populer. Menurutnya, ruang gerak Bank Indonesia selaku otoritas moneter untuk menjaga stabilitas rupiah sudah sempit.

"Kenaikan suku bunga itu kan panadol doang, untuk turunkan panasnya saja, tapi harus ada kebijakan pahit tapi dampaknya terus berkesinambungan," tuturnya.

Namun, dia pesimis harga BBM akan dinaikkan tahun ini. Saat ditanya apakah harga BBM kemungkinan akan dinaikkan setelah pemilu presiden, Rosan mengatakan, "ya begitulah."


Editor : Rahmat Fiansyah