Saran Warren Buffett Berinvestasi saat Ekonomi Global Bergejolak

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Minggu, 16 September 2018 - 14:04 WIB
Saran Warren Buffett Berinvestasi saat Ekonomi Global Bergejolak

Ilustrasi. (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Gejolak ekonomi global saat ini dapat berkaca pada krisis yang lebih dahsyat terjadi pada 2008 lalu. Namun, banyak hal yang dapat diterapkan kembali dari masa itu, terutama dalam hal berinvestasi.

Pada saat itu, Lehman Brothers, bank investasi dengan 600 miliar dolar AS dalam aset mengajukan perlindungan kebangkrutan. Kejadian ini membawa titik perubahan dalam perlambatan ekonomi yang membawa tingkat pengangguran setinggi 10 persen. Dua minggu setelahnya, yaitu 29 September 2008, pasar saham AS kehilangan 1,2 triliun dolar AS karena indeks Dow turun 778 poin atau hampir 7 persen.

Namun, ada seorang investor besar yang memiliki pandangan yang berbeda mengenai krisis tersebut, yaitu CEO Berkshire Hathaway Warren Buffett. Ia bahkan berani membeli saham-saham AS ketika investor lainnya berbondong-bondong melakukan aksi jual.

"Saya telah membeli saham-saham Amerika," kata Buffet dalam sebuah opini untuk The New York Times pada 16 Oktober 2008 dikutip dari CNBC, Minggu (16/9/2018).

Kendati demikian, ia sangat memahami tingkat keparahan krisis yang terjadi saat itu bahkan menyebutnya sebagai 'ekonomi Pearl Harbor'. Pertanyaannya, kenapa saat itu ia berani membeli saham yang begitu cepat jatuh harganya?

"Aturan sederhana yang menentukan pembelian saya adalah takut ketika orang lain serakah dan serakah ketika yang lain merasa takut," ujarnya.

Menurut dia, nilai jangka panjang dari bisnis AS yang inovatif akan terus tumbuh meskipun terjangkit keterpurukan jangka pendek dari krisis saat itu. Ia memperingatkan agar tidak berinvestasi dalam entitas yang sangat berpengaruh atau bisnis di posisi persaingan yang lemah, tetapi melihat pada penurunan ini justru memberikan kesempatan untuk membeli saham perusahaan yang kuat dengan harga rendah.

"Singkatnya, kabar buruk adalah sahabat terbaik investor. Ini memungkinkanmu membeli sepotong masa depan Amerika dengan harga yang jelas," ucapnya.

"Ketakutan mengenai kemakmuran jangka panjang dari banyak perusahaan yang sehat di negara ini tidak masuk akal. Bisnis-bisnis ini memang akan mengalami ketersendatan pendapatan, seperti yang selalu mereka lakukan. Tetapi sebagian besar perusahaan besar akan menetapkan catatan laba baru lima, 10, dan 20 tahun dari sekarang."

Saat ini prediksi tersebut terbukti benar. Dalam kurun waktu 10 tahun sejak jatuhnya Lehman Brothers, S&P 500 telah meningkat 130 persen, bahkan perusahaan seperti Apple dan Amazon telah melambung ke ketinggian baru hingga bernilai triliunan dolar AS.

Jika membeli saham Apple pada awal Agustus 2008 sebesar 1.000 dolar AS, maka akan bernilai 9.222,50 dolar AS di 2 Agustus 2018. Bahkan bisa jadi lebih dari sembilan kali lipat jika termasuk apresiasi harga dan belum termasuk dividen.

Meski demikian, ia mengakui waktu pembeliannya sedikit terlalu cepat karena pasar masih terus terjun hingga 2009. Ia mengakui, telah menjadi sifat manusia untuk melakukan investasi ketika pasar sedang naik. Namun, alih-alih bertindak berdasarkan naluri emosi, ia menyarankan untuk mengikuti aturan sederhana itu.

"Meskipun pasar umumnya rasional, mereka kadang-kadang melakukan hal-hal gila. Padahal merebut peluang yang ditawarkan tidak memerlukan kecerdasan besar," tuturnya.

"Apa yang kemudian dibutuhkan investor adalah kemampuan untuk mengabaikan ketakutan atau antusiasme massa dan untuk fokus pada beberapa dasar yang sederhana. Kesediaan untuk terlihat bodoh untuk periode yang berkelanjutan juga penting," ucapnya.


Editor : Ranto Rajagukguk