BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Acuan hingga 0,5 Persen

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Minggu, 16 September 2018 - 15:06 WIB
BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga Acuan hingga 0,5 Persen

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) diprediksi menaikkan suku bunga acuannya di Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Pasalnya, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) juga bulan ini.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, suku bunga acuan BI akan naik sekitar 25-50 basis poin. Sementara saat ini suku bunga acuan BI berada di level 5,5 persen sehingga pada akhir bulan ini diperkirakan mencapai 6 persen.

Menurut dia, hal tersebut sebagai langkah antisipasi BI dalam menghadapi kenaikan FFR yang terjadi pada bulan ini. Namun, ia memperkirakan FFR hanya akan naik sebesar 25 bps dari 2 persen menjadi 2,25 persen.

"Iya (suku bunga acuan BI) naik 25-50 bps. Masih soal tekanan eksternal, Fed sudah hampir pasti menaikkan suku bunga akhir September ini (sebanyak) 25 bps," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Minggu (16/9/2018).

Hal senada juga diutarakan Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto. Dia mengatakan, suku bunga acuan BI akan naik ke level 5,75 persen. Pasalnya, kenaikan ini diperlukan BI sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal.

"Akan ada kenaikan sekali lagi dari BI untuk tahun ini ke 5,75 persen. (Untuk) menjaga stabilitas nilai tukar dari tekanan eksternal di pasar keuangan domestik," kata.

Sementara dari sisi internal, defisit neraca perdagangan yang makin melebar juga turut diperhatikan karena berimbas pada defisit transaksi berjalan yang selama semester I ini di level 2,6 persen.

"Kalau untuk internal, masih dari sisi trade deficit tapi itu bukan ranahnya BI selaku otoritas moneter," tuturnya.

Sebagai informasi, demi menjaga stabilitas rupiah, BI secara agresif menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 125 bps sejak Mei lalu dari 4,25 persen menjadi 5,5 persen. Hal ini sebagai bentuk arah kebijakan moneter BI yang hawkish terhadap merespons kondisi global.


Editor : Ranto Rajagukguk