Memimpin Perusahaan dalam Jangka Waktu Lama, Positif atau Negatif?

Isna Rifka Sri Rahayu · Minggu, 16 September 2018 - 21:11 WIB
Memimpin Perusahaan dalam Jangka Waktu Lama, Positif atau Negatif?

CEO Facebook Mark Zuckerberg. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Mark Zuckerberg ternyata tidak pernah bekerja selain di perusahaan yang membesarkan namanya saat ini, yakni Facebook. Saat mendirikan perusahaan media sosial yang dikenal luas oleh publik ini, CEO Facebook tersebut memulainya dari nol di kampus tanpa pengalaman apa pun sebelumnya.

COO Facebook Sheryl Sandberg mengatakan, Mark memang tidak memiliki pengalaman berkarier atau memimpin perusahaan. Namun, hal ini justru yang membuat Mark sangat luar biasa karena berhasil membesarkan sebuah perusahaan teknologi dengan keterbatasan pengalaman yang dimilikinya tersebut.

"Terkadang Mark akan mengatakan di depan karyawannya, 'Well, saya tidak pernah bekerja di tempat lain, tetapi Sheryl memberitahu saya'," ujarnya dikutip dari Business Insider, Minggu (16/9/2018).

Meskipun Mark Zuckerberg merupakan contoh yang tidak biasa, namun ini cukup menimbulkan pertanyaan mengenai manfaat dan kerugian membangun karier hanya di satu tempat. Oleh karenanya, berikut dua pendapat secara umum dari pakar pekerjaan.

Pemimpin dinilai harus mengelilingi diri dengan orang-orang yang memiliki perspektif yang berbeda.

Pendiri Inspire Human Resources Jaime Klein mengatakan, terdapat beberapa manfaat bagi perusahaan yang memiliki pemimpin dalam jangka panjang. Misalnya seperti pengetahuan institusional dan stabilitas budaya.

Ia telah mengamati bahwa ketika suatu perusahaan menjalani transisi kepemimpinan, ada kecenderungan mengalami periode waktu di mana setiap orang menjadi tidak produktif. Dengan adanya pemimpin yang sama dalam jangka waktu lama mengakibatkan minimnya tercipta ide-ide segar.

"Kita cenderung mengelilingi diri dengan orang-orang hebat yang mengingatkan kita pada diri kita yang luar biasa, dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki perspektif yang berbeda," kata Klein.

Salah satu solusi yang potensial menurut Klein dan Penulis Buku 'Bring Your Human to Work' Erica Keswin adalah para CEO perusahaan ini harus didampingi dengan para pemimpin yang memiliki latar belakang yang lebih beragam. Hal inilah yang tampaknya dilakukan oleh Mark dalam merekrut Sandberg yang berasal dari Google dan memiliki pengalaman bekerja di pemerintahan.

Klein menyebutnya 'penyerbukan silang' di mana para pemimpin dengan pengalaman dari luar perusahaan datang membawa ide-ide inovatif dan pemimpin yang tetap tahu bagaimana menerapkan ide-ide tersebut dalam konteks perusahaan khusus miliknya.

"Dibutuhkan seorang pemimpin yang kuat," ucap Keswin. Sebab, untuk mengenali kesenjangan dalam keahlian dirinya, pemimpin perusahaan harus mempekerjakan orang yang kompetensinya melengkapi mereka.

Ia memiliki saran lainnya untuk para CEO dan pendiri perusahaan, yaitu bergabung dengan orang yang pernah menduduki posisi teratas dari perusahaan lain. Dengan cara ini, mereka bisa mendapatkan masukan yang jujur mengenai kinerjanya dan mendengar bagaimana pemimpin lainnya berhasil menghadapi tantangan yang serupa.

Seseorang dapat lebih berguna jika berpindah-pindah dari perusahaan ke perusahaan lain.

Jangan takut bagi orang-orang yang tidak berada dalam posisi kepemimpinan teratas. Keswin memiliki kiat serupa, yaitu carilah peluang untuk bekerja di seluruh perusahaan sehingga dapat terus belajar dan berkembang. Salah satunya menjadi sukarelawan untuk proyek sampingan di departemen lain.

"Kamu menjadi lebih bernilai untuk pekerjaan karena kamu dapat menyambungkan titik-titik itu," tuturnya.

Menurut dia, dengan bergerak di antara perusahaan yang berbeda dapat bermanfaat bagi karyawan individu, karena dapat mengembangkan keterampilan yang berbeda di masing-masing perusahaan. Hal ini juga dapat memudahkannya untuk beradaptasi di bawah pemimpin baru.

"Dengan ide-ide baru, teknik pendampingan baru dan cara-cara baru untuk mengembangkan orang itu," kata dia.


Editor : Ranto Rajagukguk