Hingga Akhir Juli, Utang Luar Negeri RI Capai 358 Miliar Dolar AS

Ade Miranti Karunia Sari ยท Senin, 17 September 2018 - 21:23 WIB
Hingga Akhir Juli, Utang Luar Negeri RI Capai 358 Miliar Dolar AS

Ilustrasi. (Foto: iNews.id/Yudistiro Pranoto)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

JAKARTA, iNews.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Juli 2018 mencapai 358,0 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Jumlah utang itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 180,8 miliar dolar AS dan utang swasta termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 177,1 miliar dolar AS.

“ULN Indonesia tumbuh 4,8 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan 5,5 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Melambatnya pertumbuhan ULN tersebut terutama disebabkan oleh ULN sektor pemerintah yang tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya,” kata BI dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/9/2018).

BI memaparkan, ULN pemerintah pada Juli 2018 tumbuh 4,1 persen (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,1 persen (yoy). Meskipun tumbuh melambat, namun posisi ULN pemerintah bulan Juli 2018 tercatat sebesar 177,4 miliar dolar AS, sedikit meningkat dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya karena adanya net penarikan pinjaman, khususnya pinjaman multilateral, serta net pembelian SBN domestik oleh investor asing selama bulan Juli 2018.

Pasca-kenaikan Fed Fund Rate pada pertengahan bulan Juni 2018, pasar keuangan mengarah pada level ekuilibrium baru dan investor asing kembali masuk ke pasar SBN domestik. Pemerintah senantiasa melakukan monitoring kondisi pasar keuangan domestik dalam rangka menjaga stabilitas pasar SBN yang turut dipengaruhi faktor eksternal, di samping mengoptimalkan pemanfaatan pinjaman luar negeri untuk membiayai pembangunan di sektor yang bersifat produktif.

ULN swasta pada akhir Juli 2018 terutama dimiliki oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA), dan sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 72,7 persen, sedikit meningkat dibandingkan dengan pangsa pada periode sebelumnya.

Pertumbuhan ULN secara tahunan di keempat sektor tersebut tercatat meningkat pada Juli 2018, dengan peningkatan tertinggi pada sektor Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas (LGA) dan sektor Industri Pengolahan.

“Perkembangan ULN Indonesia pada Juli 2018 tetap terkendali dengan struktur yang sehat. Hal ini tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Juli 2018 yang tercatat stabil di kisaran 34 persen,” kata BI.

Rasio tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara peers. Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir Juli 2018 tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,4 persen dari total ULN. BI dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.


Editor : Ranto Rajagukguk