Bappenas: Jumlah Milenial di Indonesia Capai 90 Juta Orang

Okezone ยท Rabu, 14 Februari 2018 - 19:45 WIB
Bappenas: Jumlah Milenial di Indonesia Capai 90 Juta Orang

Ilustrasi (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, Indonesia kini kesulitan untuk keluar dari status sebagai negara berkembang menjadi negara maju (middle income trap). Padahal, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia sangat banyak.

“Komposisi penduduk kita, tentu ini suatu harapan bahwa kita punya penduduk usia muda yang besar yaitu 90 juta milenial (berusia 20-34 tahun), total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), angka kematian anak 24 (per 1.000 kelahiran), angka harapan lama sekolah masih 12,72 tahun,” kata Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas di Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (14/2/2018).

Menurutnya, Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang lebih banyak dibandingkan lima negara Asia lainnya yang memiliki produk domestik bruto (PDB) besar seperti China, Jepang, India, dan Korea. Negara-negara itu, kata dia, saat ini justru mulai memasuki fase aging population karena penduduk tuanya mulai mendominasi total jumlah penduduk.

Dibandingkan dengan India, total jumlah penduduk India memang lebih besar tapi kondisi ini justru menguntungkan karena jumlah penduduk Indonesia masih relatif terkendali. Menurut Bambang, kondisi ideal dengan penduduk usia produktif yang banyak ini justru menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap.

"Kita punya keunggulan dari India, karena jumlah penduduk India terlalu banyak. Indonesia punya jumlah yang bagus, dan manageable dan bisa keluar dari middle income trap," jelasnya.

Sayangnya, menurut Bambang, modal berharga ini belum dimanfaatkan dengan baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi karena kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih rendah. Dengan begitu, yang terjadi saat ini adalah banyak penduduk usia produktif yang menganggur sehingga tidak produktif.

Mantan Menteri Keuangan itu menjelaskan, penduduk usia produktif saat ini memang banyak tinggal di perkotaan sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini bergantung pada penduduk di perkotaan.

"Yang masih kurang itu female participation dalam pasar kerja atau aktivitas ekonomi, meskipun cukup baik tapi belum standar negara maju. Memang ini pilihan, tentu kita ingin yang terbaik," ucapnya.

Pemerintah, kata Bambang, juga mendukung langkah BPS untuk memetakan secara komprehensif jumlah penduduk lewat sensus penduduk. Sensus tersebut penting sebagai basis pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran. (Lidya Julita Sembiring)


Editor : Rahmat Fiansyah