Indeks Pembangunan Manusia Naik, tapi Papua Masih yang Terendah

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Senin, 16 April 2018 - 14:27 WIB
Indeks Pembangunan Manusia Naik, tapi Papua Masih yang Terendah

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto (Foto: iNews.id/Ade)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2017 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 70,81 poin. Dalam kategori yang dibuat United Nation Development Program (UNDP), IPM tersebut dikategorikan tinggi karena berkisar di 70 hingga 79,99. Angka ini meningkat sebesar 0,63 poin atau tumbuh sebesar 0,90 persen dibandingkan capaian tahun 2016.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, DKI Jakarta mencapai status pembangunan manusia kategori sangat tinggi dan Papua masih belum beranjak dari IPM kategori rendah. Namun, tiga provinsi berhasil mengubah status IPM dari kategori sedang menjadi tinggi.

"Laju pertumbuhan IPM memang tidak dapat digenjot dengan mudah karena melibatkan kondisi sosial masyarakat yang sangat struktural," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (16/4/2018).

IPM disusun dengan menggunakan tiga dimensi, yaitu kesehatan yang diukur dengan indikator Umur Harapan Hidup, pengetahuan atau pendidikan yang diukur dengan Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah, serta hidup layak yang didekati dengan pengeluaran per kapita yang disesuaikan.

Dengan melihat Umur Harapan Hidup tahun 2017, dapat diperkirakan bayi yang lahir pada tahun 2017 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,06 tahun atau lebih lama 0,16 tahun jika dibandingkan pada tahun sebelumnya. Peningkatan Umur Harapan Hidup menunjukan adanya perbaikan tingkat kesehatan masyarakat. Selama periode 2010 hingga 2017, Indonesia telah berhasil meningkatkan Umur Harapan Hidup saat lahir sebesar 1,25 tahun atau tumbuh sebesar 0,25 persen per tahun dari 69,81 tahun pada tahun 2010.

Demikian pula dengan Harapan Lama Sekolah, anak-anak yang pada tahun 2017 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,85 tahun (Diploma I), lebih lama 0,13 tahun dibandingkan dengan anak yang berumur sama di tahun 2016. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,10 tahun, lebih lama 0,15 tahun dibandingkan dengan rata-rata tahun sebelumnya.

Angka ini menunjukkan bahwa pada tahun 2017 penduduk lndonesia secara rata-rata baru mencapai tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama kelas IX. Selama periode 2010 hingga 2017, Harapan Lama Sekolah di Indonesia telah meningkat sebesar 1,56 tahun atau tumbuh sebesar 1,87 persen per tahun. Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah meningkat 0,64 tahun atau tumbuh 1,18 persen per tahun.

Hal lain yang dapat disimpulkan dari komponen IPM adalah tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Pada tahun 2017, masyarakat lndonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebesar Rp10,66 juta rupiah per tahun, meningkat Rp244.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam hal ini, peningkatan pengeluaran dapat dipandang sebagai indikasi adanya peningkatan pendapatan masyarakat. Selama tujuh tahun terakhir, pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia meningkat sebesar 1,76 persen per tahun.

Pada level provinsi, IPM tahun 2017 berkisar antara 59,09 (Papua) hingga 80,06 (DKI Jakarta). Umur Harapan Hidup saat lahir terendah sebesar 64,34 tahun (Sulawesi Barat) dan tertinggi sebesar 74,74 tahun (Dl Yogyakarta). Sementara itu, Papua memiliki Harapan Lama Sekolah terendah selama 10,54 tahun sedangkan DI Yogyakarta memiliki Harapan Lama Sekolah tertinggi selama 15,42 tahun. Rata-rata Lama Sekolah terendah selama 6,27 tahun di Papua sedangkan tertinggi 11,02 tahun di DKI Jakarta. Pengeluaran per kapita terendah sebesar 7,0 juta rupiah per tahun di Papua sedangkan tertinggi sebesar 17,7 juta rupiah per tahun di DKI Jakarta.


Editor : Ranto Rajagukguk