BI: IMF dan Bank Dunia Nilai Indonesia Kuat Hadapi Tekanan Global

Arief Sinaga, MNC Trijaya ยท Minggu, 14 Oktober 2018 - 10:41 WIB
BI: IMF dan Bank Dunia Nilai Indonesia Kuat Hadapi Tekanan Global

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dodi Budi Waluyo. (Foto: MNC Trijaya/Arief Sinaga)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

NUSA DUA, iNews.id – Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) menilai fundamental ekonomi Indonesia kuat untuk menghadapi tekanan global termasuk dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Kendati demikian, sejumlah tantangan tetap harus dicermati Indonesia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dodi Budi Waluyo mengatakan, banyak testimoni positif yang diarahkan kepada Indonesia sepanjang pertemuan tahunan IMF-WB Group 2018 di Bali, seperti kebijakan pemerintah baik dari sektor riil maupun moneter, serta sistem keungan yang masih kuat menahan turbulensi.

"Inilah yang kemudian dibawa ke forum-forum besar seperti annual meeting maupun WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), bagaimana contoh negara negara yang resiliensi-nya kuat tetapi tetap terkena dampak spillover global" kata Dodi di Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10/2018).

Kendati fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat, namun Dodi mengakui masih banyak pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan oleh pemerintah dan Bank Sentral seperti defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) maupun reformasi fiskal.

Menurut Dodi, sepanjang annual meeting Bank Sentral dengan negara-negara G20, IMF dan Bank Dunia juga mengakui pasar keuangan bersifat interconnected atau sudah terjadi multipolarisasi sehingga rentetan suatu'tekanan sangat mudah berimbas ke negara lain terutama emerging market.

Sebagai antisipasi, IMF dan Bank Dunia juga menyarankan semua negara perlu memiliki buffer (penyangga) dalam upaya menstabilkan pasar. Kedua, melakukan reformasi agar punya daya tahan terhadap risiko. Ketiga, perlu kerja sama dalam menghadapi tekanan ekonomi global

Dodi menerangkan, kendati proyeksi pertumbuhan global untuk 2019 terkoreksi dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen, namun 189 Bank Sentral anggota IMF dan Bank Dunia tetap optimistis momentum pertumbuhan masih ada. Meski harus diakui ada koreksi isu-isu besar baik di pasar keuangan maupun perdagangan.

"Mengutip pernyataan Presiden Jokowi yang mengingatkan para pemimpin ekonomi dunia untuk bersatu menghadapi berbagai ancaman global, negara-negara harus saling bekerja sama dan berkolaborasi dari sisi kebijakan," kata Dodi.


Editor : Ranto Rajagukguk