Harga Premium Perlu Dinaikkan jika Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS

Ade Miranti Karunia Sari ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 14:41 WIB
Harga Premium Perlu Dinaikkan jika Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS

Talkshow Akhir Pekan Polemik Radio MNC Trijaya Network bertajuk "BBM & Situasi Kita" di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (13/10/2018). (Foto: iNews.id/Ade Miranti Karunia Sari)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah dinilai harus menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium jika harga minyak mentah dunia sudah menembus 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Pengamat energi Fahmy Radhi menilai, pemerintah tidak bisa terus menahan harga Premium yang saat ini dipatok Rp6.550 per liter. Namun, dia memaklumi alasan pemerintah sebelumnya yang membatalkan pengumuman kenaikan Premium.

"Saya setuju ini tidak dinaikkan, tapi ada batasnya. Sampai cut-offnya itu 100 dolar AS per barel, mau tidak mau ya harus naik," kata Fahmy dalam Talkshow Akhir Pekan Polemik Radio MNC Trijaya Network bertajuk "BBM & Situasi Kita" di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (13/10/2018).

BACA JUGA:

Jokowi Telepon Jonan untuk Batalkan Kenaikan Harga Premium

Minta Kenaikan Harga Premium Ditunda, Rini Sudah Konsultasi ke Jokowi

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM itu menilai, PT Pertamina (Persero) masih cukup kuat menanggung dengan harga minyak mentah dunia saat ini berada di kisaran 70-80 dolar AS per barel. Namun, jika sudah menyentuh 100 dolar AS per barel, beban Pertamina makin berat karena deviasi antara harga yang dipatok dengan harga keekonomian makin lebar.

"Kalau sekarang masih 83 dolar AS per barel saya kira Pertamina masih mampulah untuk menahan, tapi kalau harga minyak udah 100 dolar AS per barel maka bebannya akan berat sekali, baik Pertamina atau APBN," ucap Fahmy.

Dia menilai, langkah menaikkan Premium masih lebih baik dibandingkan risiko yang harus ditanggung dengan menahan harga meski memengaruhi daya beli masyarakat. Jika masih ngotot menahan harga, kata Fahmy, maka pemerintah harus menambah subsidi solar untuk memperbaiki keuangan Pertamina.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastadi menilai, harga Premium perlu segera dinaikkan. Bukan hanya menambah beban Pertamina, kenaikan Premium juga cukup efektif untuk membalikkan neraca perdagangan yang masih defisit yang menekan rupiah.

"Memang ini (Premium) harus dinaikkan, tidak bisa bilang tidak. Kalau kita lihat dari current account deficit penyumbang terbesarnya adalah dari sisi neraca migas," kata Fithra.


Editor : Rahmat Fiansyah