Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Gempa Sulteng Menurut Jonan

Ade Miranti Karunia Sari ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 16:05 WIB
Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Gempa Sulteng Menurut Jonan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menilai, kejadian gempa bumi likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah seharusnya menjadi momentum untuk meninjau kembali daerah mana yang bisa dijadikan hunian dan mana yang tidak. Mitigasi bencana menjadi sangat krusial di negara yang berada di cincin api Pasifik seperti Indonesia.

"Kita tidak pernah tahu kapan terjadinya gempa ataupun bencana geologi lainnya. Secara keilmuan tidak bisa dipastikan. Agar dapat meminimalisir korban, maka perlu dilakukan mitigasi sehingga aman untuk masyarakat," ucap Jonan, Sabtu (13/10/2018).

Jonan berharap, ada institusi yang memiliki otoritas menginformasikan wilayah layak huni berdasarkan kajian kegeologian. Institusi ini nantinya akan mengoordinasikan instansi pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk bersama-sama berkoordinasi dan bekerja mencegah terjadinya korban apabila suatu saat terjadi bencana geologi.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar mengungkapkan, dengan kejadian gempa dan likuifaksi, wilayah Palu dan sekitarnya tetap dapat dihuni namun dengan persyaratan khusus. Dia juga berharap, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu tetap bisa dikembangkan pascagempa.

Rudy menjelaskan, peran Badan Geologi dalam mitigasi bencana sebatas pada memetakan daerah yang pernah terjadi gempa bumi dan tsunami. Hasil pemetaan ini disajikan dalam peta rawan gempa bumi dan tsunami, serta ada juga potensi likuifaksi yang merupakan kajian di masa lalu. Peta ini diberi nama peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi dan Tsunami.

Dia menyebut, peta KRB rutin disampaikan kepada seluruh pemerintah daerah sekaligus mengimbau untuk kewaspadaan terhadap gempa dan tsunami. Selain itu, penataan ruang juga disarankan berbasis pada aspek kebencanaan, termasuk semua infrastruktur bangunan harus mempertimbangkan aspek kegempaan. "Ini salah satu upaya mitigasi pengurangan resiko bencana geologi," ucapnya.

Saat ini, Badan Geologi masih menginvestigasi kondisi di Palu dan ditargetkan rekomendasi teknis akan keluar satu bulan mendatang untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi Palu dan sekitarnya.


Editor : Rahmat Fiansyah