Pro dan Kontra Wacana Kenaikan Harga BBM

Bhima Yudhistira Adhinegara ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 01:06 WIB
Pro dan Kontra Wacana Kenaikan Harga BBM

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media


Bhima Yudhistira Adhinegara

Peneliti INDEF

MENCARI jalan keluar harga BBM subsidi yang ideal di tengah naiknya minyak mentah dunia memang cukup pelik. Jika harga BBM jenis subsidi dan penugasan, yakni solar dan premium tidak naik, maka Pertamina sebagai BUMN dan APBN akan menanggung beban yang luar biasa berat.

Sementara, jika pemerintah mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM premium maupun solar imbas pada daya beli masyarakat cukup berbahaya. Apalagi jelang pergelaran akbar Pemilu 2019, kebijakan ekonomi yang berimbas terhadap daya beli perlu ditinjau dengan serius. Adakah jalan tengahnya?

Saat ini harga minyak mentah dunia sudah menembus angka USD83 per barel untuk jenis Brent. Kenaikan harga minyak mentah secara rata-rata telah mencapai 23 persen sejak awal 2018. Sampai akhir tahun estimasi harga minyak sangat mungkin menembus USD 90–95 per barel. Padahal asumsi harga minyak di APBN 2018 awalnya hanya USD48 per barel.

Faktor sanksi yang dilakukan AS terhadap Iran berupa boikot minyak berpengaruh terhadap pasokan minyak dunia. Negara penghasil minyak besar lainnya seperti Venezuela sedang dilanda chaos yang berlarut-larut. Belum lagi setelah Arab Spring, negara seperti Libya terpecah dalam banyak faksi yang mengganggu stabilitas pasokan minyak negara yang pernah dipimpin Muammar Qaddafi itu.

Kondisi naiknya harga minyak dunia diperburuk oleh pelemahan kurs rupiah. Maklum, sebagai negara net imported minyak yang tiap hari menyedot 800.000 barel minyak impor, faktor kurs yang naik turun juga punya risiko tersendiri. Rupiah sepanjang tahun melemah lebih dari 10 persen.

Depresiasi rupiah jadi salah satu yang terburuk di kawasan ASEAN. Jika harga minyak USD83 per barel, maka impor 800.000 barel membutuhkan dolar setidaknya USD66,4 juta per harinya. Dengan harga subsidi yang makin menjauhi harga keekonomian, jelas Pertamina harus diselamatkan.

Sekarang opsi pertama adalah menaikkan harga BBM subsidi dan penugasan, baik premium maupun solar. Defisit migas bisa sedikit ditekan karena permintaan BBM dalam negeri turun seiring naiknya harga jual di SPBU. Kurs rupiah pun sedikit punya ruang menghadapi liarnya dolar AS.

Konsekuensi negatifnya tidak sedikit, harga kebutuhan pokok yang rentan terdorong imported inflation (tekanan kurs rupiah) bisa menyebabkan inflasi bergerak naik pada akhir tahun ini. Gelombang protes tentu tak mudah ditangani rezim yang sedang berusaha melanggengkan kuasa jelang pemilihan presiden. Elektabilitas bisa turun karena dianggap tidak berempati terhadap rakyat kebanyakan.


Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2