Rilis Data Inflasi Tahan Wall Street Jatuh ke Zona Merah

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Kamis, 11 Oktober 2018 - 21:17 WIB
Rilis Data Inflasi Tahan Wall Street Jatuh ke Zona Merah

ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

NEW YORK, iNews.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) berbalik menguat setelah sempat dibuka di zona merah pada perdagangan Kamis (11/10/2018).

Dilansir CNBC, menghijaunya Wall Street setelah pelaku pasar merespons data inflasi terbaru yang lebih rendah daripada yang dikhawatirkan. Kemarin, pelaku pasar panik dengan kenaikan imbal hasil obligasi yang membuat Indeks Dow ambruk 800 poin.

Pagi ini waktu setempat, Indeks Dow Jones industrial average menguat 60,5 poin setelah sempat anjlok 100 poin pada pembukaan perdagangan. Adapun S&P masih tertekan 0,19 persen dan Nadsaq bangkit 0,66 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September mengalami inflasi 0,1 persen, lebih rendah dari perkiraan 0,2 persen. Data ini membuat imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun turun ke 3,17 persen sementara tenor 2 tahun juga turun 2,85 persen.

Anjloknya Wall Street pada perdagangan kemarin disebabkan kekhawatiran pelaku pasar dengan kenaikan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Obligasi tenor 2 tahun juga menembus posisi tertinggi sejak 2008.

Kenaikan imbal hasil dinilai akan membuat biaya pinjaman meningkat sehingga memperlambat laju ekonomi. Selain itu, hal tersebut juga berpotensi membuat bank sentral AS The Fed bertindak agresif. Tahun ini, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan tiga kali dan diprediksi kembali menaikkan suku bunga sekali lagi hingga akhir tahun.

"Ekonomi mungkin memanas tapi tidak cukup cepat untuk mendongkrak inflasi dan membuat The Fed menaikkan suku bunga acuan lebih tinggi lagi," kata Kepala Ekonom MUFG Union Bank, Chris Rupkey.

Kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian Presiden AS, Donald Trump. Presiden dari Partai Republik ini menyebut bank sentral melakukan kesalahan dengan menaikkan suku bunga. Trump tidak senang dengan kenaikan suku bunga dan menilai tidak ada alasan bagi The Fed untuk melakukan hal itu.


Editor : Rahmat Fiansyah